Cari

BELANTARA CAK SOL

MENCOBA BEDA BUKAN DOSA

Kategori

BEHIND NEWS

Razmena dan Kegamangan Sochi

Kembang api di Stadion Olimpiade Fisht di Olympic Park saat geladi resik upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, Selasa 4 Februari 2014. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK
Kembang api di Stadion Olimpiade Fisht di Olympic Park saat geladi resik upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, Selasa 4 Februari 2014. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK

PEREMPUAN bernama Razmena Akhmadievna Ibragimova ini beberapa hari terakhir begitu populer di Rusia, khususnya di Sochi. Bekas wilayah tetirah yang telah disulap sedemikian takjub sebagai jujugan tidak kurang 6.000 atlet dari 85 negara yang bakal bersaing demi superioritas di ajang Olimpiade Musim Dingin 2014 pada 7-23 Februari. Belum lagi 1.650 atlet Paralympic dari 45 negara. Juga puluhan ribu penonton, pelancong, serta jurnalis dari berbagai jengkal jagat.

Siapakah Razmena? Rusia menyebutnya black widow. Ia dilahirkan pada 6 Juni 1991. Jadi usianya 22 tahun. Seperti julukannya, widow, ia adalah janda. Menurut Moskow, dua pekan sebelum olimpiade bergulir Razmena sempat didapati berkeliaran di jantung Kota Sochi. Ia ditengarai memetakan target bom bunuh diri.

Razmena mungkin tidak sendiri. Beberapa janda lainnya (black widows) juga dimungkinkan siap melancarkan aksi bunuh diri untuk menuntut balas atas kematian suami-suami mereka —kaum militan di Chechnya dan wilayah Kaukasus Utara— di tangan militer dan pasukan keamanan Rusia.

Janda-janda seperti Razmena, di mata Rusia, jelas superbahaya. Apalagi jika mereka sampai luput dan mampu menyerang ketika olimpiade yang jauh-jauh hari disiapkan Presiden Vladimir Putin sebagai ‘’pesta termegah sepanjang sejarah’’ itu diguncang bom. Susah dibayangkan pastinya.

Poster sketsa wajah Razmena Akhmadievna Ibragimova di sebuah toko grosir di Distrik Adler, Sochi. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK
Poster sketsa wajah Razmena Akhmadievna Ibragimova di sebuah toko grosir di Distrik Adler, Sochi. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK

Alhasil, di tempat-tempat umum seperti stasiun, terminal bus, pusat-pusat perbelanjaan hingga toko-toko kelontong di Sochi dan sekitarnya, sketsa wajah Razmena menghiasi selebaran yang tertempel betebaran. Rusia merasa wajib ekstrawaspada dan, sebagaimana dikatakan Presiden Putin, tidak takut karena sudah tahu betul cara mengantisipasi serta mengatasi setiap ancaman yang muncul.

Toh, kegamangan publik global tetap menggelayut. Mereka mencemaskan tragedi serangan kaum militan pada Olimpiade Musim Panas Munich 1972 berulang di Sochi. Juni lalu, dalam rekaman video pemimpin gerilyawan Chechnya Doku Umarov menyerukan ‘’jihadis’’ mengerahkan seluruh daya dan strategi untuk menggagalkan penyelenggaraan olimpiade yang ia sebut sebagai ‘’tarian setan di atas tulang-belulang leluhur kami’’.

Umarov juga mengklaim kelompoknya sebagai pelaku serangkaian serangan bunuh diri yang terjadi sebelumnya, termasuk pengeboman di Moskow pada 2010 dan 2011 yang menewaskan lebih dari 70 orang.

Bulan lalu dua lelaki dari kelompok militan di Dagestan mem-posting video di internet dan mengultimatum Presiden Putin agar membatalkan perhelatan Olimpiade Sochi. Jika tidak, gertaknya, mereka akan memberikan ‘’hadiah’’ kepada Putin dan para pengunjung olimpiade. Keduanya juga mengklaim sebagai pelaku bom bunuh diri ganda di Kota Volgograd, belahan selatan Rusia, bulan lalu yang menewaskan 34 orang.

Bom bunuh diri ganda di Volgograd yang mendekati perhelatan olimpiade itu, mau tidak mau, tetap memunculkan kecemasan terhadap keamanan Sochi meski Rusia telah menguatkan benteng pertahanan ‘’ring of steel’’ di sekitar kota itu. Bahkan, seperti dilansir TIME, Moskow juga berketetapan mengerahkan sedikitnya 40 ribu personel keamanan di Sochi yang telah disuntik dana US$ 50 miliar untuk dijadikan kompleks tuan rumah olimpiade sejak kota itu dipilih sebagai tuan rumah pada Juli 2005 silam.

Pelajaran dari Super Bowl

Menjelang akhir bulan lalu para pejabat Rusia mengakui tiket Olimpiade Sochi baru terjual 70 persen. Artinya, teror telah memengaruhi animo calon penonton maupun pengunjung. Masih cukup banyak yang mencemaskan faktor keamanan dan keselamatannya meski Rusia telah menggaransi.

Untuk meminimalisasi kecemasan keamanan tersebut, Pentagon dan FBI menawarkan bantuan pengamanan, termasuk pengerahan armadanya yang ada di Laut Hitam, saat berlangsung olimpiade dalam koordinasi dengan otoritas Moskow. Namun sejauh ini belum ada respons dari Rusia. Berdasarkan pengalaman Rusia alergi mengizinkan personel militer dan keamanan asing menginjak wilayahnya dalam hajatan yang ia selenggarakan sehingga hampir mustahil tawaran AS tersebut diterima.

Meski demikian, AS tidak melihat enteng setiap ancaman terhadap olimpiade itu. Menhan AS Chuck Hagel menyatakan negaranya tetap akan ‘’melakukan pembicaraan menyangkut beberapa tindakan yang tepat’’ dengan Rusia guna menjamin keamanan evakuasi atlet dan warga AS jika nanti memang diperlukan.

Di Olimpiade Sochi, AS mengirimkan sekitar 230 atlet didampingi 270 pelatih dan ofisial pendukung setiap cabang olahraga. Sekitar 10 ribu pengunjung asal AS diperkirakan hadir di kota tepian Laut Hitam yang membentang 27 mil di arah utara dari Georgia tersebut. Kontingen AS disertai oleh delegasi beranggotakan lima orang dipimpin Janet Napolitano, mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri.

Kepada Reuters, beberapa pejabat senior di pemerintahan Presiden Barack Obama mengatakan, Rusia memiliki tanggung jawab utama jika terjadi insiden selama olimpiade berlangsung. Jika evakuasi terpaksa harus dilakukan, militer AS bisa melakukan sewaktu-waktu baik dengan pesawat militer maupun carter. Meski demikian, kata seorang pejabat AS, sejauh ini belum ada rencana evakuasi berupa konsep matang yang siap dijalankan. Namun AS selalu siap seandainya operasi mengeluarkan warganya dari Rusia selama olimpiade harus dilakukan.

Sebagaimana para pengamat, para pejabat AS meyakini ancaman jelang event-event besar yang menjadi fokus dunia seperti olimpiade bukan hal baru. Bisa saja itu cuma gertakan. Namun antisipasi tetap perlu dilakukan. Di antaranya, tetap memberlakukan standar pelarangan atlet mengenakan kostum tim di luar kompleks pertandingan maupun perkampungan atlet.

Di sisi lain, sebagaimana dilaporkan The Washington Post, AS berharap Rusia bisa memetik ‘’pelajaran’’ dari observasi yang mereka lakukan saat berlangsung pertandingan Super Bowl XLVI di Indianapolis pada Februari 2012 dalam pengamanan Olimpiade Sochi. Saat itu David Rubincam, Atase Hukum FBI di Moskow, mengantarkan delegasi beranggotakan lima perwira senior pada Dinas Keamanan Federal (FSB–intelijen Rusia) mengobservasi stadion tempat pertandingan.

Dengan mata telanjang, ujar Rubincam, para perwira FSB itu tidak melihat pasukan keamanan bersenjata di berbagai sudut stadion dan sekitarnya. ‘’Kami sebenarnya menempatkan banyak personel keamanan siaga tetapi partisipan tidak melihatnya. Itulah yang kalian butuhkan,’’ ujar Rubincam kepada delegasi FSB. Ia menjelaskan, snipers sebenarnya ada di berbagai sudut stadion dan sekitarnya tetapi tidak tampak mata publik.

Lisa Monaco, penasihat kontraterorisme Obama, ditunjuk sebagai pemimpin panel kerja sama antaragen intelijen untuk mengoordinasikan dukungan AS pada Olimpiade Sochi jika dibutuhkan. Namun Rubincam, yang bertugas di Moskow dalam rentang Mei 2011 hingga Oktober 2012, mengakui sejauh ini Rusia masih enggan menerima bantuan AS untuk pengamanan Sochi, bahkan masih terkesan mencurigainya.

Rusia, kata Jim Treacy –mantan agen FBI yang juga pernah bertugas sebagai atase hukum di Moskow, masih curiga AS bakal melakukan penyadapan dan pengumpulan data intelijen ketika kerja sama keamanan dan kontraterorisme berlangsung.

Sasaran Antara

Mark Galeotti, pakar keamanan Rusia di New York University, masih meyakini yang ancaman militan terhadap Olimpiade Sochi baru sebatas teror. Dalam tataran teror, bisa dibilang mereka telah berhasil menciptakan kegamangan. Namun menyiapkan aksi bunuh diri, sebagaimana dimaksud Umarov dengan black widows, merupakan ‘’senjata yang rentan’’ di tengah pengamanan ekstraketat saat olimpiade bergulir.

Yang justru layak dicermati adalah serangan-serangan seperti di Volgograd yang jauh dari basis militan di Kaukasus Utara. Serangan seperti itu bisa dibilang sebagai ‘’sasaran antara’’, di luar Sochi tetapi tetap mampu menimbulkan kepanikan di Sochi.

‘’Ketakutan terbesar adalah serangan-serangan di Volgograd ini seperti taktik diversi. Sebelum setiap teroris menyerang Rusia, militan memakai pengalihan seperti ini. Mereka mengorganisasi serangan-serangan teroris berskala kecil di wilayah-wilayah lain,’’ ujar Andrei Soldatov, pemimpin redaksi Agentura.ru, sebuah website yang mencermati isu keamanann Rusia.

Meski saat pesta bergulir nanti tidak ada bom, harus diakui militan telah berhasil membuat gamang perhelatan Olimpiade Sochi. Penjualan tiket yang baru 70 persen adalah salah satu bukti. Rusia harus bekerja keras menggaransi pesta termahal sepanjang sejarah itu aman dan lancar.

* Beberapa bagian tulisan ini dimuat di HARIAN NASIONAL edisi Minggu 26 Januari 2014

Saat ‘’Politikus Plagiat’’ Ingin Balik ke Pentas

Cukup lama menghilang dari layar publik, tiba-tiba Karl-Theodor zu Guttenberg muncul lagi mengiringi euforia kesepakatan awal koalisi jilid kedua Uni Demokratik Kristen (CDU)-nya Kanselir Angela Merkel dengan Partai Demokrat Sosial (SPD). Akankah mantan menteri pertahanan yang dipaksa mundur akibat tuduhan plagiarisme ini kembali ke pemerintahan?

KARL-THEODOR ZU GUTTENBERG. PHOTO: REUTERS | THIERRY ROGE
KARL-THEODOR ZU GUTTENBERG. PHOTO: REUTERS | THIERRY ROGE

HAMPIR semua panggung politik dunia memiliki kisah ini. Karier seorang politikus begitu cemerlang, melesat bagai pesawat luar angkasa, namun sangat cepat pula jatuh bak meteor menghunjam bumi. Jika tidak karena tuduhan korupsi atau main perempuan, bisa pula menjadi korban framing perebutan kekuasaan di internal serta eksternal partai maupun lembaga kekuasaan.

Di Jerman pasca-Perang Dunia II, Karl-Theodor zu Guttenberg terbilang satu di antara politisi berkarier sangat cemerlang itu. Saat berada di puncak kariernya pada 2009, ia menduduki jabatan menteri keuangan lalu menteri pertahanan. Bahkan saat itu ia mulai digadang-gadang sebagai penerus Merkel.

Sejak muda Guttenberg memang dikenal kritis dengan kemampuan analisis yang tajam. Ia juga karismatik. Alhasil ia pun menjadi media darling karena tidak pelit berbicara kepada media tentang berbagai isu yang terbilang kontroversial, mulai dari perang di Afghanistan hingga langkah penyelamatan pabrik automotif Opel. Kala itu media menilai beruntung Merkel yang sangat hati-hati memiliki junior pemberani seperti Guttenberg. Sebuah perpaduan yang tepat.

Jerman belum pernah memiliki politikus seperti dia. Trah Guttenberg dari Leopold II, Kekaisaran Suci Roma pada akhir abad ke-18, membuat karismanya kian terang. Apalagi ia dikenal bukan sosok politikus yang begitu disibukkan dengan penampilan jaim alias jaga imej. Ia tidak segan-segan berkumpul dengan kaum munda penggandrung musik cadas menonton konser AC/DC di malam hari.

Berkumpul dengan kalangan jetset dan sosialita juga superbiasa disokong kegemaran istrinya, Stephanie, yang tampil glamour. Stephanie adalah cicit Otto von Bismarck, kanselir pertama Jerman.

Pun ‘’dosa sejarah’’ Jerman juga tidak melekat kepadanya mengingat keluarga pendahulunya adalah para penentang Nazi. Kakeknya bahkan disebut-sebut sempat lolos dari eksekusi Nazi karena mengatakan lebih baik membunuh perwira SS (Agen Rahasia)-nya Nazi ketimbang warga Yahudi.

Pendek kata, modal seorang politikus telah lengkap dimiliki Guttenberg. Namun siapa sempat mengira pada Maret 2011 dengan hati redam ia harus menanggalkan jabatannya, lantas meninggalkan Berlin menuju New York. Karier politik sosok yang sempat difavoritkan sebagai salah satu kandidat pengganti Kanselir Merkel ini terjun bebas akibat tuduhan plagiarisme. Media membeber habis-habisan sang politikus cemerlang itu ternyata menjiplak sejumlah besar karya orang lain untuk tesis doktornya.

Kepergian Guttenberg disayangkan tidak hanya kalangan politisi sehaluan yang konservatif, namun juga mereka di oposisi yang beraliran kiri. Bahkan Kanselir Merkel dengan berat hati menerima pengunduran dirinya.

Sejak itu Guttenberg lebih banyak menghabiskan waktu bersama Stephanie beserta dua anak perempuannya di lokasi hunian kalangan berpunya di pinggiran New York, tepatnya di Greenwich, Connecticut. Ia bukan warga negara namun diangkat sebagai ‘’negarawan kehormatan’’ oleh lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington. Di ‘’pengasingannya’’ itu pula Guttenberg menjabat sebagai duta besar Komisi Eropa untuk program inisiasi kebebasan berinternet.

Awal bulan lalu, saat partainya sibuk membincang rencana koalisi dengan SPD pascakemenengan di pemilu serta memprotes bukti penyadapan yang dilakukan agen-agen Amerika Serikat di telepon selulernya, diam-diam Merkel menerima Guttenberg dan berbicara selama satu jam di Kantor Kanselir. Spekulasi pun muncul, Guttenberg siap comeback di pentas politik Jerman.

Sejauh ini materi pembicaraan rahasia Merkel dan Guttenberg masih misteri. Guttenberg sendiri enggan membeber inti pembicaraan dalam pertemuan dengan Merkel itu. Menjawab permintaan wawancara khusus Reuters, ia hanya bilang sebelumnya kerap pulang kampung namun dilakukannya sangat diam-diam. Ia juga tidak mau dijebak untuk menjawab kemungkinannya kembali menerjuni politik Jerman.

‘’Saya sangat bahagia di sini. Akhirnya saya bisa menyelami berbagai topik yang biasanya politisi selalu berpura-pura paham namun sejatinya mereka tidak memiliki banyak pengetahuan tentang topik-topik itu,’’ tuturnya.

Saat di AS, Guttenberg mengakui banyak mendapatkan perspektif baru. Ia pun mengaku bisa berpendapat lebih jernih. Meski tetap menjalin hubungan akrab dengan Merkel, dalam sejumlah tulisan opini-editorial ia kerap mengkritisi policy pemerintahan seniornya itu, mulai dari kebijakan luar negeri hingga keamanan.

Pada akhir 2012, di Financial Times ia mengkritik sikap pemerintahan Berlin yang menghalangi merger industri dirgantara dan pertahanan Prancis-Jerman EADS dengan BAE Systems-nya Inggris. Menurut Guttenberg, kegagalan merger itu merupakan ‘’kehilangan kesempatan mengambil langkah bersejarah’’.

Agustus lalu, saat tudingan Suriah menggunakan senjata kimia kian deras mengalir, di The New York Times ia mengkritik ‘’budaya selalu enggan’’ dalam keterlibatan militer. Jerman seharusnya terlibat sebagaimana negara-negara kekuatan utama dunia lainnya. Namun pandangan Guttenberg ini banyak diserang media lokal.

‘’Semua itu saya maksudkan sebagai pengingat,’’ kata Guttenberg, politikus asal Bavaria yang tergabung di Uni Sosial Kristen (CSU), mitra ‘’koalisi sejati’’ CDU-nya Merkel.

Menguji Penerimaan Publik

Sejumlah media Jerman menilai memertahankan inti pembicaraan Merkel dan Guttenberg tetap misterius merupakan upaya mengetahui sejauh mana publik bereaksi dan bisa menerima kembali kehadiran politikus Bavaria itu. Namun mereka juga memandang, semuanya kembali kepada Guttenberg sendiri.

Satu persoalan mendasar, sejauh ini ia belum mau mengakui tindakan plagiat yang dilakukannya meskipun University of Bayreuth, kampus tempatnya meraih gelar Ph.D. pada 2006, telah memastikan Guttenberg telah ‘’banyak melanggar standar akademik dan sengaja berbohong’’. Media Jerman sepertinya juga bakal sangat berhati-hati memberinya tempat untuk meraih lagi kepercayaan publik setelah merasa ‘’dikhianati’’ oleh sosok yang telah dijadikannya sebagai bintang itu.

Namun masih cukup banyak waktu bagi Guttenberg untuk memulihkan diri. Usianya kini baru 41 tahun. Ia juga masih dibutuhkan oleh CSU. Tahun lalu Ketua CSU Horst Seehofer bahkan berjanji membawanya pulang setelah pemilu parlemen federal pada September 2013. Di pemilu itu koalisi CDU-CSU menang dan, terbukti, Guttenberg pulang serta berkesempatan berbicara langsung di kantor pemerintahan bersama Kanselir Merkel.

Jika ia benar hendak kembali, sejumlah pengamat menilai tempat yang paling pas baginya untuk membangun lagi karier politik adalah di Bavaria, kampung halamannya. Selain kemampuannya yang masih terbilang brilian, di wilayah itu pula keluarganya tinggal sejak abad ke-12 dan menetap di kastil keluarga yang dimiliki sejak 1482.

‘’Bisakah itu terwujud beberapa tahun lagi dari sekarang? Mungkin saja. Guttenberg masih sangat populer, bahkan juga di kalangan Sosial Demokrat. Untuk mendapati politikus muda Jerman sekarismatik dia, Anda baru bisa menjumpainya ke masa muda Helmut Schmidt,’’ ujar Juergen Falter, pengamat politik di Mainz University.

Beberapa tahun lagi. Bukan sekarang. Itulah penilaian Falter. ‘’Memori orang atas inti plagiarisme itu masih tajam.’’

* Dimuat HARIAN NASIONAL, A4, 1 DESEMBER 2013

Nicolas Sarkozy: Sepak Bola dan Comeback Politik *

Mantan Presiden Prancis  Nicolas Sarkozy (kiri) disambut Presiden Paris Saint-Germain Nasser al-Khelaifi sebelum laga PSG vs Monaco di Stadion Parc des Princes Stadium Paris, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS | BENOIT TESSIER
Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy (kiri) disambut Presiden Paris Saint-Germain Nasser al-Khelaifi sebelum laga PSG vs Monaco di Stadion Parc des Princes Stadium Paris, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS | BENOIT TESSIER

Harimau tidak akan pernah menjadi vegetarian.

DARAH politik selalu mengaliri tubuh politikus sejati hingga ajal menjemput. Nicolas Sarkozy, mantan Presiden Prancis yang tahun lalu dipaksa menyerahkan jabatan kepada Francois Hollande, dinilai banyak orang masih memilikinya. Ia memang belum mengumumkan pensiun dari politik, tetapi belum juga mengikrarkan kembali ke pusaran utama.

Lebih dari setahun meninggalkan Elysée Palace, ia setia dengan partai Persatuan Gerakan Rakyat (UMP)-nya. Sarkozy juga sadar kekalahan yang memaksanya meninggalkan istana kepresidenan per 15 Mei 2012 setelah dihuni sejak 16 Mei 2007 membuatnya lebih banyak lepas dari teropong publik. Ia harus pintar mencari momen serta panggung yang pas untuk comeback.  Sepertinya itu telah didapat dari kursi di boks kehormatan Stadion Parc des Princes Paris, markas Paris Saint-Germain (PSG).

Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB, saat stadion itu menjadi magnet perhatian publik ketika Zlatan ‘’Ibra’’ Ibrahimovic dkk menjamu salah satu rival berat di Ligue 1, AS Monaco, Sarkozy hadir di boks kehormatan walaupun keberadaannya tidak mampu mengantarkan PSG menang. Klub besutan Laurent Blanc ini ditahan seri 1-1. Gol Ibra dijawab Monaco melalui ace-nya Claudio Ranieri yang didatangkan awal musim ini, bomber Radamel Falcao.

Hasil di atas rumput Parc des Princes bisa jadi tidak begitu penting untuk Sarkozy karena ia sebenarnya sibuk berikhtiar membangun ‘’lapangan’’ sendiri: lapangan untuk political comeback. Stadion tempat yang pas. Di Parc des Princes, ia disambut tidak hanya oleh Presiden PSG asal Qatar Nasser al-Khelaifi, namun juga fans yang memberikan aplaus dan berebut ingin foto bareng dengan sang mantan presiden.

Tahu namun Sarkozy sepertinya tidak mau tahu berita-berita miring yang masih menguntit dirinya, seperti pancingan berperang kata dengan Sepp Blatter seputar penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 yang sebelumnya disebut Presiden FIFA itu sebagai ‘’kesalahan’’. Di permukaan, faktor cuaca panas di Teluk kala event itu berlangsung, yang disebut-sebut bisa mencapai 50 derajat Celsius, jadi kambing hitam meski Qatar menjanjikan bangunan stadion yang mampu menghadirkan suhu 20 derajat Celsius saat Piala Dunia berlangsung di musim panas Juni-Juli.

Rabu (18/9), kepada koran Die Zet Jerman, Blatter membenarkan keberadaan politikus yang menekan Presiden Persatuan Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) asal Prancis Michel Platini agar mengalihkan dukungan UEFA dari AS ke Qatar untuk Piala Dunia tersebut. Australia juga maju bidding, tetapi kalah juga oleh Qatar. Meski tanpa menyebut nama, terang benderang yang dimaksud itu Sarkozy.

Blatter sekadar menegaskan investigasi France Football  yang diturunkan dalam laporan berjudul Qatargate Januari lalu. Bahwa terjadi ‘’kolusi dan korupsi’’ atas penunjukan Qatar dari sebuah pertemuan santap siang oleh Sarkozy di Elysée Palace pada 23 November 2010. Saat makan siang dengan Putra Mahkota Qatar Pangeran Tamin bin Haman al-Thani dan investor PSG yang ketika itu dililit masalah keuangan serius, Sarkozy minta Platini yang juga diundang hadir mengerahkan anggota UEFA agar memilih Qatar.

Pertemuan juga membahas rencana pembelian PSG sekaligus pembukaan saluran olahraga baru di televisi Prancis guna menyaingi Canal Plus yang dibenci Sarkozy. Mantan presiden ini memang dikenal pendukung fanatik PSG dan rutin hadir di stadion kala klub itu bertanding.

France Football tidak menyebut pertemuan itu sudah menghasilkan kesepakatan (deal). Namun semuanya didiskusikan dalam pertemuan itu. Yang ada kemudian, 10 hari setelah pertemuan santap siang tersebut Qatar resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. PSG dibeli perusahaan dana investasi Qatar senilai GBP 50 juta pada 2011. Tahun lalu jaringan televisi Qatar Al-Jazeera membuka saluran khusus olahraga Prancis, beIN Sport, setelah mendapatkan hak siar sepak bola Prancis hingga 2016 senilai GBP 150 juta.

Platini membenarkan pertemuan santap siang itu, namun ia berang menanggapinya. Mantan kapten timnas Prancis ini mengatakan tidak ada tekanan mengalihkan dukungan UEFA ke Qatar. Ia pun kini sibuk berkampanye agar pelaksanaan Piala Dunia 2022 digeser ke November-Desember untuk menyesuaikan dengan cuaca. Namun Qatar dan sejumlah negara lain bersikukuh tetap di Juni-Juli.

Tahun lalu FIFA menunjuk pengacara AS Michael Garcia sebagai kepala tim penyelidik etika. Menurut France Football, Garcia mengatakan, berbagai bukti awal menunjukkan memang ada pengaruh korupsi atas penunjukan tuan rumah Piala Dunia 2018 Rusia setelah mengalahkan Inggris dalam voting di putaran pertama dan Qatar 2022 yang mengungguli Australia pada putaran terakhir.

Menjaga Popularitas

Politik adalah momentum. Memanfaatkan momentum wajib dimiliki setiap politikus untuk menjual nama di mana-mana, di segala macam media, di segala jenis acara. Kini salah satu yang memungkinkan bagi Sarkozy adalah sepak bola. Dengan pesonanya, ditambah sukses PSG menjadi juara Ligue 1 musim lalu, publik serasa telah ‘’melupakan dosa-dosanya’’.

Jajak terakhir atas popularitas Sarkozy di Paris Match memastikan dukungan di kisaran 53 persen berbanding 44 persen untuk Hollande. Di internal UMP, Sarkozy masih dinilai layak maju lagi menantang Hollande pada pemilu 2017. Dari sembilan nama internal UMP yang dinilai dalam jajak Ifop, Sarkozy di peringkat teratas (56 persen) berbanding hanya 17 persen untuk pesaing dekatnya, mantan PM Francis Fillon.

Sarkozy di tengah fans PSG yang menyambutnya dan mengajaknya berfoto bersama di Parc des Princes, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS
Sarkozy di tengah fans PSG yang menyambutnya dan mengajaknya berfoto bersama di Parc des Princes, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS

Di saat krisis ekonomi masih menggantung di Prancis, orang mengingat saat 2008 ia ke Jerman menemui Kanselir Angela Merkel dan membicarakan langkah bersama demi kestabilan perekonomian. Prancis tidak terkena serangan serius sebagaimana kini masih dihadapi Presiden Hollande. Apa pun yang dilakukan Hollande akan memberinya kredit dan menentukan sendiri popularitasnya, sementara Sarkozy serasa nothing to lose. Jika publik menilai pemerintah sekarang tidak cukup cekatan, tanpa kata pun Sarkozy bisa bermanuver seolah berkirim pesan: ‘’Coba kami yang terus memerintah’’.

Momentum muncul bagi Sarkozy untuk keluar lagi ‘’menjual diri’’. Memang ia sedang out of duty, tetapi takkan pernah out of desire. Hasratnya ke politik tetap membara. ‘’Politik sudah menjadi DNA Nicolas Sarkozy. Ia akan selalu tertarik politik,’’ ujar mantan Menteri Kehakiman Rachida Dati kepada Observer.

Meski belum mengucap comeback, Sarkozy mulai membangun kembali popularitasnya dari stadion. Sementara sang istri, model-penyanyi Carla Bruni, mengeluarkan album terbaru Le Pengouin berisi satir-satir yang diyakini banyak orang ditujukan ke Hollande. Semua kian menguatkan pendapat publik Sarkozy belum tamat di panggung politik Prancis yang permisif menilai sosok.

Pada 1950-an, Jenderal Charles de Gaulle menghabiskan lebih dari satu dasa warsa di belantara politik tanpa posisi sebelum kembali membangun Republik Kelima. Francois Mitterand gagal saat kali pertama nyapres pada 1965, tapi politikus Sosialis ini sukses di pemilu 1981 yang bertahan hingga 1995. Jacques Chirac gagal di pemilu 1981, tapi sukses pada 1995 hingga 2007. Selama 30 tahun politik Prancis diisi pertarungan politik Mitterand dan Chirac. Kiranya parameter waktu ini begitu dipahami Sarkozy.

Jika memilih melanggengkan nama dengan ‘’menunggangi’’ sepak bola, Sarkozy sepertinya sadar risiko kepopuleran dari arena itu sangat minim. Mungkin bisa dibilang tidak ada untuk tujuan utama politisi menjual nama. Sebaliknya sangat menguntungkan demi menjaga popularitas.

Mendiang seorang manajer klub sepak bola di Indonesia beberapa tahun silam berkata kepada saya, diberitakan baik atau buruk asal berkaitan dengan sepak bola dan olahraga itu tetap saja untung. Apalagi, ujarnya, ‘’Bayangkan tiap hari nama bisa ada di televisi dan koran. Berapa duit harus keluar jika bayar iklan?’’

*) Dimuat di HARIAN NASIONAL, Selasa 24 September 2013, Halaman A19.

Mengapa Syarifuddin, eh Nazaruddin, Memilih Cartagena, kok Bukan Kartasura?

Coba pasang gambar peta dunia (global map). Tarik garis mulai dari Jakarta, Singapura, Vietnam, Kamboja, transit di Madrid (Spanyol) dalam perjalanan menuju Rep. Dominika, baru mendarat di Kolombia. Itulah pelarian lintas benua yang ditempuh bekas Bendahara Umum DPP Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, tersangka dalam kasus suap proyek wisma atlet SEA Games di Palembang, seperti dipaparkan Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Anton Bachrul Alam.

Dengan paparan tersebut, gugur sudah hipotesis yang berseliweran sebelumnya bahwa Nazaruddin masih di Singapura. Lalu ada juga yang bilang dari Singapura, ia terbang ke Kamboja dan masih di sana. Bisa juga ke negeri leluhurnya di Pakistan. Malah saat nongol di televisi dengan ‘’tampang teraniaya bertopi sulam compang-camping ala pengemis’’ berdistorsi seperti jingle Sari Roti, ada juga yang meyakini Nazar masih di wilayah Indonesia. ‘’Di Riau sangat mungkin,’’ ujar seorang kawan.

Heran juga Nazar bisa berakting seperti itu. Padahal, kata seorang teman di Jember, saat kampanye Pileg 2009 Nazar dikenal sebagai caleg yang paling tidak banyak ulah dibandingkan caleg-caleg lain. Dia irit bicara, tetapi paling gemar berderma.

Orang bebas menduga, tetapi hasil pelacakan Polri bekerja sama dengan Interpol akhirnya memastikan seorang buron bernama Nazar hinggap di Kota Cartagena, Kolombia, di Amerika Latin dan bisa dibekuk pada Minggu (7/8) dini hari waktu setempat. Ia bisa sampai sana berbekal paspor palsu dengan nama Syarifuddin –sebelumnya sempat beredar nama ‘’Safarudin’’ dan ”Syahruddin”.

Anton mengatakan, kemungkinan Nazar meninggalkan Kamboja pada 23 Juli lalu dan tiba di Bogota, Ibu Kota Kolombia, sehari berikutnya. Baru kemudian ia bersama istri dan beberapa ‘’pengawalnya’’ bergeser ke Cartagena.

Bagaimana polisi mampu melacaknya? Menurut Anton, dibantu petugas dari Keimigrasian dan dari markas Interpol di Lyon, keberadaan Nazar diketahui berkat identifikasi sidik jarinya. Mereka lantas berkoordinasi dengan Kepolisian Kolombia untuk menangkap Nazar dan berhasil.

Pernyataan Anton tersebut mengonfirmasi sinyalemen sebelumnya oleh Menko Pohukam Djoko Suyanto yang mengatakan, seseorang identik dengan Nazar ditangkap di Kolombia.

Yang menjadi pernyataan, mengapa Safarudin –eh, Nazaruddin— memilih kabur sejauh Cartagena? Jika mau Kartasura kan sangat lebih dekat?

Hehehe… Jawabannya sederhana. Tak perlu teori canggih dan segudang argumentasi. Di Cartagena tidak banyak, bahkan mungkin dikira Nazar tidak ada, yang mengenalnya. Jika mau belajar dari para buron terorisme, bersembunyi di mana pun di wilayah republik ini lambat laun terdeteksi juga.

Mungkin Nazar atau orang-orang di sekitarnya, baik yang menyertai atau tidak, sangat paham event. Saat ini di Kolombia tengah berlangsung kejuaraan Piala Dunia U-20 (FIFA U-20 World Cup). Tepatnya dimulai pada 29 Juli (30 Juli WIB) hingga 20 Agustus (21 Agustus WIB) 2011 waktu setempat. Bahkan Cartagena juga menjadi salah satu venue pertandingan, seperti laga-laga penyisihan di Grup E (Austria vs Panama) pada 30 Juli WIB serta di Grup F (Meksiko vs Inggris) dan Grup E (Mesir vs Austria) pada 5 Agustus WIB.

Pada kejuaraan yang kini telah memasuki fase knock-out (16 besar) itu, Cartagena juga menjadi lokasi pertandingan Prancis vs Ekuador pada 11 Agustus WIB. Satu laga perempat final yang mempertemukan pemenang Portugal vs Guatemala kontra pemenang Argentina vs Mesir juga berlangsung di Cartagena pada 14 Agustus WIB.

Lazimnya negara yang sedang menggelar hajatan kelas dunia, apalagi untuk cabang sepak bola, seleksi terhadap pengunjung –bukan pengamanan dalam arti menangkal bahaya— biasanya agak diperlonggar. Dari perhelatan itu, negara seperti Kolombia juga berharap mampu mendatangkan pengunjung sebanyak mungkin untuk mengisi kas pendapatan nasionalnya dari sektor-sektor lain seperti pariwisata.

Oleh karena itu, terlalu keji jika sampai ada yang mengatakan Nazar memilih ke Kolombia karena negara ini lekat dengan pengamanan melekat oleh mafia atau kartel obat-obat terlarang. Kolombia mungkin belum sepenuhnya bebas dari praktik-praktik mafia seperti itu, termasuk pula kekuatannya mengontrol beberapa elite politik dan pejabat di sana.

Bagaimanapun, kita harus mengapresiasi berbagai kemajuan positif yang dicapai Kolombia selama beberapa tahun terakhir. Seperti dinyatakan netizen yang mengaku bernama Arnaldo Meneses dari Bogota, Kolombia, di kolom komentar portal The Jakarta Post, Kolombia di bawah kepemimpinan Presiden baru Juan Manuel Santos sangat beda dibandingkan dengan pemimpin sebelumnya, Presiden Alvaro Uribe.

Santos sangat gigih memerangi korupsi, termasuk yang diwariskan oleh rezim Uribe yang juga dilabeli sebagai ‘’presiden terkorup dalam sejarah Kolombia’’. Pemerintahan Santos berpegang pada prinsip bahwa demokrasi harus mampu meminimalkan praktik-praktik korupsi untuk mencapai kemajuan dan pembangunan bagi rakyat.

Dengan prinsip pemerintahan Kolombia saat ini di bawah Presiden Santos, besar harapan Nazar bisa dibawa pulang ke Indonesia agar secara ksatria menceritakan yang semestinya. Tidak lagi bagai ‘’hantu peneror’’ yang datang dan pergi entah dari mana serta tidak jelas juntrung-nya.

Nanti, dari hasil investigasi menyeluruh terhadap kasus Nazar, bangsa ini diharapkan bisa kembali bertanya pada diri sendiri, bagaimana korupsi di negara ini berkembang biak pascareformasi dan di tengah prestasi demokrasi yang digembar-gemborkan itu: makin terkendali atau malah kian tidak tahu diri?

Bekas Juara Olimpiade Itu Terpaksa Mengamen Akrobat Jalanan

MASUK penjara dan kini sebagai pemain akrobat jalanan yang harus berpindah-pindah menghindari kejaran aparat tramtib, sebelumnya tidak terlintas di benak Zhang Shangwu. Dalam usia yang terbilang muda dan puncak produktif, 27 tahun, bekas juara senam Olimpiade asal China ini terpaksa melakukannya demi mengganjal perut.

MENYAMBUNG HIDUP: Zhang Shangwu menunjukkan medali-medali dari senam yang pernah diraihnya. Agar tetap bisa hidup, ia kini harus menjadi pemain akrobat jalanan. PHOTO: THE DAILY CHILLI

Ironis untuk China, salah satu negara kekuatan atas Olimpiade itu? Mungkin begitu meskipun sejatinya sikap kurang peduli terhadap mantan atlet-atletnya yang berprestasi tidak hanya terjadi di Negeri Tirai Bambu tersebut. Menurut The Star/Asia News Network (ANN), yang juga dimuat di The Straits Times, Zhang didapati sedang bermain akrobat jalanan   layaknya stuntman di Stasiun Metro Wangfujing, Beijing, demi pendapatan 30 yuan (sekira Rp 40 ribu) per hari.

Uang sejumlah itu juga belum pasti didapat per hari mengingat faktor keamanan harus bermain kucing-kucingan dengan aparat tramtib. Uang yang didapatnya itu juga harus disisihkan untuk membiayai sang kakek yang sedang sakit parah.

‘’Saya tidak tahu yang lain selain senam. Hanya bakat ini yang saya manfaatkan untuk hidup,’’ tutur Zhang.

Perubahan nasib Zhang dirasakannya berjalan begitu cepat. Pada 1988 ketika usianya baru 5 tahun, ia dikirim ke sekolah olahraga amatir di Baoding, Provinsi Hebei. Ketika usianya menginjak 12 tahun, Zhang terpilih sebagai masuk tim nasional senam China. Pada Summer Universiade 2001, Zhang meraih medali emas. Bersama pesenam-pesenam ternama China seperti Xing Aowei dan Yang wei, trio tersebut memenangi medali emas Olimpiade untuk kategori beregu pria.

Ketika menjalani pelatnas untuk persiapan Olimpiade Athena 2004, Zhang mengalami cedera tendon. Ia lantas bergabung tim Provinsi Hebei, namun tidak bertahan lama. Pada 2005, Zhang harus pensiun dari karier profesionalnya di dunia senam.

Pensiunan atlet, meskipun berprestasi, kadang tidak menjamin kehidupan mapan seseorang. Itu pula yang dialami Zhang. Tidak ada pekerjaan tetap. Kemiskinan pun mendera. Pada 2007 ia harus mendekam di penjara karena kasus pencurian hanya untuk sekadar mengisi perut. Keluar dari penjara, ia harus berakrobat dari satu jalanan ke jalanan lain agar usus-usus perutnya tidak meliuk-liuk karena lapar.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: