Cari

BELANTARA CAK SOL

MENCOBA BEDA BUKAN DOSA

Kategori

SPIRIT

Myam, ‘’Penyambung Lidah’’ Gadis Arab

‘’Yang jadi masalah bukan gadisnya – masyarakat lah yang bermasalah.’’

SEMULA ia gadis biasa saja. Namun kini Myam Mahmoud menunjukkan kepada publik dunia ia gadis luar biasa. Media Arab dan dunia menyorot dan bergantian mewawancarainya. Gadis Mesir berusia 18 tahun ini tidak hanya mencuri perhatian, tetapi juga menghunjamkan kritik ke para penguasa di tengah kian maraknya kekerasan seksual kepada kaum perempuan.

Juga bagaimana kaum lelaki disebutnya gampang mengkritik, bahkan menghujat, cara perempuan berpakaian. Lelaki hampir jarang introspeksi diri bagaimana cara mereka memandang perempuan berpakaian.

MYAM MAHMOUD. PHOTO: RUTH POLLARD | THE SYDNEY MORNING HERALD
MYAM MAHMOUD. PHOTO: RUTH POLLARD | THE SYDNEY MORNING HERALD

Dengan lirik-lirik rap-nya, Myam –semifinalis ajang pencarian bakat di TV Arabs Got Talent pada Oktober lalu— kini terus meluncur dengan kritik-kritik kerasnya pada ‘’kemunafikan sosial’’, bersuara lantang demi hak para gadis, serta berusaha menyindir beban begitu berat yang dibebankan kepada para gadis di Timur Tengah.

Mahasiswa tahun pertama jurusan ilmu politik sebuah universitas di Mesir ini suka ngerap sejak berusia 10 tahun. Mula-mula ia menulis bait demi bait yang dimaksudkan sebagai sajak. Seiring pertumbuhannya, ia mulai menyukai hip-hop dalam bahasa Inggris dan Arab. Menginjak remaja, ia pun menemukan dunianya: ngerap dengan lirik-lirik tentang perempuan dan politik.

Puisi-puisi mendiang Ahmed Fouad Negm, yang dikenal sebagai ‘’penyair rakyat’’, diakui Myam sangat menginspirasi lirik-lirik rap-nya. Puisi-puisi Negm, yang wafat pada 3 Desember lalu pada usia 84 tahun, dikenal sangat tajam mengkritik penguasa Mesir. Masuk, keluar, masuk, dan keluar bui seturut pergantian rezim di Mesir ia jalani. Penyair sekuler-revolusioner ini juga berperan dalam gerakan menggulingkan Presiden Hosni Mubarak pada 2011 silam.

Myam tidak pernah bertemu Negm namun  ‘’bahasa rakyat’’ yang dipakai mendiang sangat disukainya. ‘’Aku begitu mengaguminya. Aku akan mengenang karya-karyanya. Takkan pernah aku bisa mengingat peristiwa politik di Mesir tanpa membaca puisi-puisinya,’’ tutur Myam.

Selain Negm, dua penyanyi perempuan Arab –Malikah, rapper Lebanon kelahiran Mesir dan Shadia Mansour, penyanyi hip-hop Palestina kelahiran Inggris yang lekat dijuluki ‘’First Lady of Arabic Hip-hop’’, juga menjadi inspirasinya. Di Timur Tengah, performa mereka lekat dengan nuansa politis namun terbukti berhasil mendapatkan tempat di genre musik yang masih didominasi kaum lelaki itu. Lagu-lagu rap Arab pun umumnya mengkritik cara perempuan berpakaian.

‘’Apa yang membuatku memulai semua ini, yang benar-benar membuatku marah, adalah lagu-lagu rap Arab terus-terusan mengkritik cara perempuan berpakaian. Seorang kawan dan aku lantas berpikir, ‘Mereka toh bukan satu-satunya orang yang boleh mengkritik’,’’ tuturnya dalam wawancara khusus dengan Ruth Pollard, jurnalis The Sydney Morning Herald di Timur Tengah.

Iklim politik Mesir yang belum stabil hingga kini setelah tergulingnya Mubarak, disusul dilengserkannya Mohamad Mursi  oleh militer, semakin memberi ruang segar bagi lirik-lirik kritik Myam. Mesir memang terbebas dari tiran, namun sebagaimana dilaporkan PBB belum lama ini, perempuan di Negeri Piramida itu tetap merasa belum bebas, bahkan semakin ditekan.

Laporan PBB menyatakan, kekerasan seksual dan tekanan mental, baik berupa tindakan maupun sekadar kata-kata, meningkat drastis setelah gelombang Revolusi Arab Springs yang turut menggulung kekuasaan Mubarak. Jajak PBB menunjukkan 99,3 persen perempuan Mesir menjadi korban kekerasan seksual.

‘’Kita tak bisa tetap diam,’’ tutur Myam. ‘’Para gadis memberitahuku, ‘Yang kau katakan persis seperti yang selalu ingin kami katakan’. Mereka mengatakan aku suaranya.’’

Umumnya para gadis di Mesir ‘’terpingit’’, tidak leluasa bergerak dan berkarier, serta sepertinya lebih disiapkan untuk menikah. Beruntung Myam karena orangtuanya tidak sekolot itu. Orangtuanya mengizinkan ia terus menuntut ilmu, berkarier, hingga terus ngerap. Berkat sukses di ajang pencarian bakat itu, ia kini mulai terus merekam lagu-lagu yang ditulisnya serta mengunggahnya di SoundCloud.

Sebagai muslimah, sehari-hari Myam berhijab. Namun cara berpakaian ini dinilainya tidak relevan dengan lirik-lirik lagunya, juga dengan pilihannya ngerap. ‘’Saat aku menulis, toh aku juga selalu tidak menggurui perempuan bagaimana mereka harus bersikap. Yang kukatakan kepada mereka adalah mereka memiliki nilai hakiki dan berhak untuk memilih,’’ tuturnya.

Protes begitulah. Kebebasan, bisa juga, seperti tertuang dalam lirik Myam berikut: Bagaimana bisa kau menilaiku dari rambut atau cadarku? Kalian, para kucing, memanggil dan melecehkan, pikirmu itu benar, tak salah. Meski semua itu sekadar kata-kata, semuanya seperti batu, tau?

Lalu, dalam lirik tembang I Am Not a Cigarette (Aku Bukan Sebatang Rokok), Myam pun menghentak laksana menyanyikan lagu kebangsaan. ‘’Dimulai dari ciuman, lalu berakhir dicampakkan.’’ Maksudnya, nasib perempuan kadang tidak berbeda dengan sebatang rokok, dicium dulu kemudian dilemparkan ke tanah.

Salahkah perempuan, apa yang salah dengan perempuan? Lirik pun berlanjut, ‘’Yang jadi masalah bukan gadisnya – masyarakat lah yang bermasalah.’’ 

* Dimuat di HARIAN NASIONAL, C32, 23 Desember 2013 

Rupiah dari Ombak Pantai Cimaja

Thesi Adiriza dan Pak Edin. PHOTO: NORMAN

Ide adalah emas. Namun ide yang kadang muncul tak terduga itu tidak akan menjelma sebagai emas jika tidak dibarengi keinginan kuat untuk menggapainya. Ide hanya bertakhta di awan selagi tidak ditindaklanjuti keteguhan hati untuk melangkahkan kaki mewujudkannya, yang bagi sebagian orang tidak ubahnya mimpi.

BERAWAL dari rasa penasaran sekaligus terdorong keinginan kuat untuk belajar berselancar (surfing), Thesi Adiriza mantap melangkah menuju pantai Desa Cimaja di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Thesi lantas belajar berselancar dari Nuraedin –lelaki 37 tahun yang akrab disapa Pak Edin—hingga akhirnya cukup mahir menjaga keseimbangan diri di atas papan yang meluncur di permukaan air laut.

Berselancar pun menjadi hobi yang mengasyikkan bagi Thesi. Dari keasyikan itu lantas muncul ide kreatif sekaligus produktif membuka usaha menjual papan surfing di Cimaja dengan tetap menggandeng Pak Edin.

‘’Ide awalnya timbul tahun 2000 saat saya berusia 20 tahun. Demi keinginan untuk belajar berselancar, saya rela hijrah ke Sukabumi, tepatnya di Cimaja, Pelabuhan Ratu, dari tempat tinggal saya sebelumnya di Jalan Griya Raya, Griya Mas, Bandung.  Sampai Cimaja, saya bertemu Pak Nuraedin, peselancar terbaik di Cimaja sampai kini,’’ ujar Thesi mengenang.

Di Cimaja, Pak Edin adalah pesohor untuk urusan surfing. Anak-anak sekolah, remaja, hingga dewasa sangat mengenalnya. Bahkan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia serta dari negara manca selalu mencarinya jika ingin belajar dan dibimbing ber-surfing. Ombak di pantai Cimaja memang sudah dikenal –baik di dalam maupun luar negeri— sebagai lokasi yang cocok untuk berselancar.

‘’Atas dasar itu timbul ide cara mendapatkan uang. Maka saya mengajak Pak Edin untuk membuka usaha papan surfing dan layanan perbaikan andaikata ada papan surfing yang kurang enak dipakai. Usaha ini kami mulai awal tahun 2005 dan berjalan hingga sekarang dengan nama galeri Stripes Shop. Saya mengajak Pak Edin bukan semata untuk membuka usaha galeri, tetapi sekaligus menjadikannya guru atau pelatih dalam berselancar,’’ kata Thesi menguraikan.

Percaya atau tidak, modal awal usaha mereka hanya Rp 1 juta. Sebulan kemudian modal ditambah Rp 1 juta lagi, sehingga total tersedia Rp 2 juta. Menilik keterbatasan modal awal itu, Thesi dan Edin dipaksa memutar otak bagaimana caranya agar Stripes Shop tetap menarik minat pengunjung yang hendak berselancar di pantai Cimaja.

Jadilah galeri itu diisi hanya satu buah papan selancar second, ditambah dua buah papan surfing milik pribadi mereka. Juga ada beberapa pasang pakaian renang, serta tidak ketinggalan kemeja dan kaus agar galeri tidak saja terlihat menarik, tetapi juga mengesankan eksklusif.

Berkat kesabaran dan keuletan mereka, Stripes Shop berkembang. Jumlah papan surfing dan aneka kebutuhan yang dipajang di galeri pun terus bertambah. Pengunjung  galeri rata-rata tidak hanya untuk membeli papan surfing, tetapi sekaligus minta diajari cara menggunakannya dengan benar dan baik.

Apalagi harga papan surfing di Stripes Shop cukup terjangkau kantong konsumen. Per buah papan baru dibanderol antara Rp 3 juta  hingga Rp 10 juta.  Menurut Edin, papan surfing banyak diminati turis asing dibandingkan lokal.

‘’Kami juga mengajak para pemuda di sini untuk menjadi guide yang mempromosikan papan surfing. Ada juga guide yang datang langsung dari hotel ke Stripes Shop meski tanpa ada kerja sama dengan pihak hotel. Tentu saja ada upah jasa untuk para guide yang berhasil dan agar lebih bersemangat mencari konsumen. Dengan demikian para pemuda setempat merasa terpanggil untuk mempromosikan daerahnya supaya dikenal dan dikunjungi para turis,’’ ujar Edin.

Menurut Edin, baik dan tidaknya papan selancar tergantung pada faktor personal.  Seorang peselancar yang sudah terbiasa memakai papan surfing tertentu sangat mungkin tidak cocok memakai papan yang lain. ‘’Bisa dikata faktor kebiasaan saja. Jadi belum tentu papan ini baik untuk kita, baik juga untuk orang lain. Ada yang baik untuk kita, tetapi tidak baik untuk orang lain dan sebaliknya,’’ ucap Edin menegaskan.

Terdapat beberapa bahan papan surfing. Namun yang lazim adalah terbuat dari fiber.  Ada papan selancar berjenis knee board karena dipakai dengan cara berlutut, short board yang dipakai dengan cara berdiri normal, serta long board/malibu yang lebih klasik dan menyenangkan, serta mini malibu yang berukuran lebih pendek dari malibu. Harga papan-papan selancar ini berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Semuanya handmade yang lazim dipakai oleh surfer legends.

‘’Tetapi ada juga yang dibuat dengan cara dicetak di pabrik, yang biasa disebut sebagai papan epoxy dengan harga yang hampir sama dengan papan-papan yang disebut tadi, tergantung dari bahan dan kualitasnya. Sedangkan harga papan surfing bekas sekitar Rp 800 ribu sampai Rp 3 juta,’’  kata Edin menerangkan.

Jika ada pengguna mengeluhkan papan selancar yang dipakainya, baik yang dibeli dari Stripes Shop atau dari tempat lain, Edin siap memperbaikinya, sehingga enak dipakai si peselancar. Semuanya dilakukan sebagai servis bagi konsumen agar tidak kecewa usai membeli papan surfing.

Selain memperbaiki papan, Edin juga selalu siap menjadi pelatih atau guru bagi yang mau belajar berselancar, apakah itu anak-anak sekolah, remaja, dewasa, bahkan orangtua. Turis asing, jangan ditanya lagi. Sudah banyak yang mengenal Edin. Apalagi turis asing itu juga menceritakan soal Edin kepada rekan-rekannya di negara asalnya yang ingin pergi mencari tantangan ombak di Indonesia, tepatnya ke pantai Cimaja.

Dari situlah Stripes Shop yang dikelola Thesi dan Edin mampu bertahan hingga kini.  Thesi dan Edin sangat bersyukur atas perkembangan usahanya. Namun mereka juga masih berharap perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi agar lebih giat lagi untuk mempromosikan Pelabuhan Ratu, khususnya pantai Cimaja dengan potensi ombak yang cukup baik untuk berselancar.

Tentu keinginan tersebut datang tidak hanya dari Thesi dan Edin, tetapi juga dari semua warga Sukabumi –warga Desa Cimaja khususnya—yang ingin menyaksikan daerahnya terus berkembang dan maju. Kiranya berbagai event perlu juga mulai dipikirkan untuk digelar di Cimaja, seperti menjadikannya tuan rumah kejuaraan berselancar bagi Provinsi Jawa Barat, serta event-event lain berlevel di atasnya.

Solichin I Laporan Norman dari Cimaja, Sukabumi

Tabloid FORSAS Februari 2010

Wahyudi Menjawab Tantangan Memori Biji Nyamplung

Wahyudi: kenangan masa kecil yang mengusik semangatnya berwirausaha. PHOTO: FORSAS/NANANG R PARLINDUNGAN

Setiap ciptaan Tuhan pasti punya makna dan manfaat. Banyak hal atau benda kita jumpai di alam bebas. Sepintas mereka dinilai kurang atau tidak bermanfaat, penghias alam semata. Namun bila dikaji dan diolah, ternyata manfaatnya besar, bahkan luar biasa berguna.

PEMIKIRAN seperti itu yang disadari dan dikembangkan Wahyudi, 30 tahun. Lulusan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengembangkan potensi manfaat biji dari pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum L) yang terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia sebagai alternatif pengganti bahan bakar solar atau biodiesel.

Lulusan angkatan pertama Campus Entrepreneur Program (CEP) hasil kerja sama UGM dan Ciputra Foundation itu terkenang masa kecilnya di sebuah kampung di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia dan teman-temannya sering mencari biji nyamplung untuk dijadikan lampu. Saat itu listrik belum mengaliri desanya.

‘’Sejak kecil, di sela-sela membantu orangtua yang pegawai rendahan, hidup serbakekurangan, saya dan teman-teman sering bermain dengan biji nyamplung. Kami heran kenapa biji ini bisa dinyalakan dengan api. Dari situ saya mulai mencoba mengembangkan ide,” tuturnya.

Berdasarkan pengalaman masa kecil tersebut, Wahyudi tertarik mengembangkan ide memanfaatkan biji nyamplung ketika mengikuti CEP. Dia meyakini CEP bisa memberinya peluang untuk mengasah pikiran sekaligus mendorongnya mengembangkan spirit berwirausaha dengan memanfaatkan segala sesuatu yang bernilai dan berdaya guna.

‘’Sangat sayang bila kita tidak dapat mengolah biji nyamplung itu menjadi bahan bakar alternatif yang sangat berguna karena untuk memperolehnya sangat mudah, tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Saya berusaha menggunakan salah satu hasil alam yang awalnya tidak banyak orang tahu untuk mengolahnya,’’ kata Wahyudi usai memberikan testimoni sukses di depan peserta pelatihan kewirausahaan di Jakarta yang diselenggarakan Ciputra Foundation.

Menurut Wahyudi, banyak yang diperolehnya selama mengikuti CEP dan yang paling terasa adalah spirit entrepreneur. ‘’Kemudian bagaimana agar kita memulai sesuatu usaha bisnis secara aman. Artinya, bagaimana kita mengkalkulasi risiko-risiko bisnis yang mungkin muncul  di tengah-tengah kita menjalani bisnis. Bagaimana kita lebih responsif memanfaatkan peluang dari sisi  atau cara pandang yang berbeda, tidak seperti cara memandang peluang bisnis yang umum dilakukan oleh kalangan-kalangan pebisnis. Lalu peluang yang sudah diperoleh, kita kembangkan melalui serangkaian inovasi,’’ ujarnya menambahkan.

Lulus dari CEP, Wahyudi dan tiga temannya mulai mengembangkan biji nyamplung untuk menjadikannya bahan bakar alternatif pengganti solar. Mereka berusaha menciptakan hasil semaksimal mungkin dengan modal patungan.

Tekad kuat dan kerja keras –termasuk riset— lebih dari setahun pun membuahkan hasil cukup gemilang. Mengolah biji nyamplung menjadi alternatif pengganti bahan bakar yang sudah ada. Selain itu, demikian Wahyudi, sukses tersebut juga melibatkan peran serta masyarakat setempat untuk meningkatkan perekonomiannya.

Buah nyamplung yang bijinya bisa dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar solar (biodiesel).

Wahyudi menuturkan, pada awalnya memang tidak mudah untuk mengajak masyarakat mau mengumpulkan biji nyamplung. Sebab di antara mereka ada yang berpikiran mengumpulkan biji nyamplung itu ‘’kurang produktif’’. Setidaknya Wahyudi dan kawan-kawan butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar mampu memberdayakan masyarakat setempat.

Dari konsistensi melibatkan masyarakat tersebut, Wahyudi dan kawan-kawan akhirnya mampu mengumpulkan biji nyamplung 25 ton hingga 40 ton per pekan dari satu wilayah. Mereka menghargai 1 kg biji nyamplung sebesar Rp 1.000. Dengan kata lain, total uang yang berputar di masyarakat bila mereka dapat mengumpulkan 25 ton hingga 40 ton per pekan adalah Rp 25 juta hingga Rp 40 juta.

Di Indonesia, berbagai regulasi telah dikeluarkan pemerintah dalam rangka mendorong penggunaan energi terbarukan sesuai dengan Peraturan Presiden No.5  Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Pada tahun 2025, bahan bakar nabati (BBN) ditargetkan mampu memasok 5 persen dari kebutuhan nasional. Langkah ke arah itu akan dimulai dari besaran 0,5 persen dari total konsumsi energi nasional pada tahun 2010.

‘’Riset kami atas bahan bakar alternatif ini sesuai dengan Peraturan Presiden untuk dapat menemukan energi bahan bakar nabati,’’ ujarnya menegaskan.

Di Indonesia, pohon nyamplung sangat mudah didapat. Tanaman ini bisa ditemui di beberapa daerah pesisir, antara lain, di Alas Purwo, Kepulauan Seribu, Ujung Kulon, Cagar Alam Penanjung Pangandaran, Batu Karas, Pantai Carita Banten, Yapen (Jayapura), Biak, Nabire, Sorong, Fakfak, Halmahera, serta Ternate.

Pohon nyamplung dapat tumbuh pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut. Hasil penafsiran tutupan lahan dari citra satelit Landsat 7 ETM+ didapati, di wilayah pantai provinsi di seluruh Indonesia diperkirakan luas areal pohon nyamplung mencapai 480.000 hektare.

Nah, apabila dari luasan indikatif total hutan alam sebesar 10 persen saja nyamplung bisa tumbuh produktif dengan produktivitas biji per hektare sebesar 10 ton atau total produksi sebesar 500 ribu ton (setara dengan 225 juta liter biodiesel, 3,8 juta ton pupuk organik, 72 ribu ton pakan ternak, 18 ribu ton gliserin, dan 12 ribu ton bahan oleokimia lain), maka bisa didapat nilai total hingga Rp 5,02 triliun.

Potensi yang begitu besar itu membuat nyamplung layak diperhitungkan sebagai bagian dari  ‘’identitas’’ energi nabati nasional Indonesia—sebagaimana India dengan biofuel methanol tebunya.

‘’Selain bahan bakar minyak pengganti solar, biji nyamplung juga memiliki manfaat lainnya, salah satunya menjadi pupuk organik,” ucap Wahyudi.

Nyamplung pun merupakan penghasil rendemen minyak mentah paling tinggi. Satu kilogram daging buah nyamplung mampu menghasilkan antara 0,5–0,7 liter minyak mentah. Sedangkan 1 kg daging bauh jarak menghasilkan hanya antara 0,3–0,4 liter minyak mentah. Apalagi dengan keterbatasan teknologi di Indonesia saat ini, rata-rata hanya dihasilkan 0,2 liter minyak mentah dari 1 kg daging buah jarak.

Oleh karena itu, Wahyudi berharap peran serta pemerintah dalam bentuk kerja sama untuk menghasilkan biodiesel dari biji nyamplung itu sebagai alternatif pengganti bahan bakar solar.

Solichin – Laporan Ronald Siahaan (Jakarta)

Tabloid FORSAS Edisi 08/Desember 2009

Kang Asep dan Perahu Karet Balaraja

Menguji perahu karet produk CV Cengkok Jaya Balaraja yang dimotori Kang Asep. PHOTO: FORSAS/UYUS SETIA BHAKTI

KETIKA perahu karet disebut, asosiasi ingatan kita bisa jadi langsung tertuju ke bencana banjir, tim rescue, aktivitas outdoor atau kegiatan di alam bebas seperti arung jeram yang belakangan sangat populer di kalangan profesional muda. Namun tahukah Anda di mana salah satu produsen lokal perahu karet itu?

Penelusuran pun tertuju pada sosok Asep Gana Kusuma, veteran pegiat alam Indonesia yang dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, pada 15 Oktober 1963. Sejak 1997 Kang Asep, demikian panggilan akrabnya, memulai kiprah memproduksi perahu karet lokal dengan kualitas yang tidak kalah baik dengan produk internasional.

Di pabriknya yang berlabel CV Cengkok Jaya di Jalan Raya Serang Km 25, Balaraja, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Kang Asep menceritakan perjalanan menjadi entrepreneur di bidang produksi perahu karet ini.

’’Saya merintis usaha produksi perahu karet ini pada tahun 1997. Pada waktu itu, saya masih menjadi konsultan aktif di salah satu pabrik perahu karet milik orang Korea. Orang Korea menjadikan saya konsultan karena mereka kebingungan saat melakukan proses pengeleman karena lem sulit merekat pada bahan karet,’’ ujar Kang Asep mengenang.

Selidik punya selidik, demikian Kang Asep menambahkan, ternyata lem sulit melekat akibat perbedaan suhu udara antara negara tempat lem dibuat dan Indonesia. Tantangan itu dijawab Kang Asep dengan berusaha meracik ulang lem tersebut dengan bahan lain hingga mempunyai daya rekat yang sangat tinggi.

’’Mulai saat itulah saya dipercaya sebagai konsultan dalam pabrik perahu karet itu,’’ tuturnya.

Roda bisnis dan jalan nasib seseorang terus berputar. Pabrik perahu karet milik warga Korea itu selanjutnya bangkrut. Merasa mendapatkan pengalaman dan ilmu soal ke-perahu karet-an dari jabatan sebagai konsultan di pabrik orang Korea itu, Kang Asep lantas meneguhkan hati  memulai usaha membuka workshop dibantu beberapa rekan dan pegiat alam.

Perahu karet perdana buatan Kang Asep dkk sukses diproduksi. Sosialisasi dan pemasaran terus dilakukan hingga kini perahu karet buatan Kang Asep dkk merambah ke berbagai pelosok negeri.

’’Meski kapasitas produksinya masih terbatas, namun perahu buatan kami telah menembus pasar nasional. Tentu ini bisa terjadi karena kualitas produk kami mampu bersaing dengan produk-produk internasional,’’ ujar Kang Asep, yang juga aktif dalam produksi acara ’’Bahenol’’ di Komedi TV itu.

Perahu karet dari Balaraja ini juga sering digunakan sebagai perahu andalan pada tiap event kejuaraan nasional (kejurnas) arung jeram yang digelar di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan life jacket produksi CV Cengkok Jaya juga pernah digunakan dalam pelatihan Rescue International di Bali beberapa tahun silam.

Pabrik perahu karet Kang Asep juga melayani berbagai jenis permintaan perahu karet dari konsumen, mulai dari banana boat, kayak impetable, lifer boat, roober boat, life jacket, dan lain-lain dengan harga yang relatif murah dibandingkan produk bermerek dari luar negeri.

Untuk perahu jenis lifer boat ukuran 390 cm untuk kapasitas 8 orang, misalnya, Kang Asep mematok harga Rp 15.000.000 (lima belas juta rupiah), sedangkan jenis roober boat dengan kapasitas 5 orang seharga Rp 12.500.000 (dua belas juta lima ratus ribu rupiah) dan kapasitas 12 orang Rp 22.000.000 (dua puluh dua juta rupiah). Sedangkan untuk life jacket, Kang Asep mematok harga cuma Rp 125.000 (seratus dua puluh lima ribu rupiah).

Bapak empat anak dari seorang istri bernama Siti Nurhasanah itu menuturkan, sejauh ini omset produksi perahu karet CV Cengkok Jaya memang baru berkisar antara Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulan. Namun, dengan semangat dan tekad yang terus berusaha dinyalakan, Kang Asep yakin usahanya ini akan berkembang karena sejauh ini tidak ada cukup masalah yang berarti dengan bahan baku.

’’Kami berharap pihak pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah, memberikan perhatian terhadap kegiatan usaha yang tengah kami lakukan ini melalui pembinaan dan kemudahan dalam mendapatkan kredit dari pihak perbankan. Semua itu penting untuk peningkatan produksi kami dan membuka lapangan pekerjaan,’’ kata Kang Asep, yang juga menganjurkan para pemimpin bangsa bisa memakmurkan Balaraja karena di Balaraja tersimpan berjuta kisah dan silsilah leluhur bangsa.

Perahu karet buatan Kang Asep dkk menggunakan bahan PVC Woven, sementara asesorisnya masih diimpor dari Korea. Proses produksi dan perakitan menggunakan teknologi mesin press. Padahal, demikian Kang Asep, ’’Produk Korea saja masih menggunakan teknologi hand-made (manual), sementara produk Cengkok Jaya Balaraja sudah menggunakan mesin press.’’

Kang Asep –yang juga dipanggil Abah Talen di lingkungan Ikatan Paranormal Banten itu— juga tidak sungkan membeberkan tips proses pembuatan perahu karet. Menurut dia, pembuatan perahu karet tidak terlalu rumit, namun juga tidak cukup sederhana. Proses pembuatan perahu karet lazim dimulai dengan cutting atau pembuatan pola perahu yang akan di produksi berdasarkan pesanan ataupun stok pabrik.

Setelah itu dilakuan proses pencucian atau pembersihan, yaitu membersihkan minyak dan kotoran pada bahan perahu dengan pembersih (cleaner) khusus. Setelah bersih, dilakukanlah pengeleman dasar dengan dua kali proses pengeleman.

Baru kemudian proses penyambungan, yaitu menyambungkan bahan-bahan yang sudah dilem satu sama lain hingga membentuk pola perahu setengah jadi. Selanjutnya adalah pengepresan untuk lebih merekatkan bahan perahu dengan mesin press dibantu pemanas untuk hasil yang maksimal. Terus dilakukan penggabungan bagian per perahu hingga menjadi bentuk perahu yang utuh. Setelah bentuk utuh perahu didapat, dilakukanlah pembersihan sisa lem yang masih menempel. Perahu karet pun siap dipakai.

Solichin — Laporan Uyus Setia Bhakti (Tangerang)

Tabloid FORSAS Edisi 08/Desember 2009

Warsito: Mereguk Berkah dari Kubah

Warsito: Usahanya yang tak kenal lelah membuahkan hasil gemilang. PHOTO: SOLICHIN

Hidup tiada henti bekerja. Bekerja sambil jalan-jalan, jalan-jalan sambil bekerja.

MOTTO hidup itu kini berusaha selalu dihayati Warsito di jengkal bumi mana pun berpijak dan melangkah. Namun bukan motto itu yang dulu membawanya hingga ke tanah Kalimantan. Kondisi ekonomi keluarga lah yang mendorong tekad bajanya merantau selepas lulus dari bangku Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Malang pada 1981 silam.

Selain demi masa depannya, anak petani kelahiran Dusun Cendol Barat, Desa Ngadirejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, pada 7 Januari 1961 ini juga ingin mengangkat harkat keluarganya. ‘’Saya anak kedua dari tujuh bersaudara. Orangtua saya petani kecil di desa. Karena tak ada biaya melanjutkan belajar, saya merantau, mencari kerja ke Kalimantan,’’ tuturnya mengawali pembicaraan dengan Tabloid FORSAS.

Ikhtiar demi masa depan membawanya ke Kalimantan Selatan (Kalsel). Di sana mula-mula dia bekerja seadanya, termasuk ikut menambang batubara. Hasil yang seadanya juga harus pandai-pandai dikelola untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun hati kecilnya selalu berkata, jika bekerja dengan serius dan jujur, niscaya Tuhan akan memberi jalan dan ganjaran semestinya.

Jalan menuju perubahan nasib mulai terbuka ketika Warsito bekerja di sebuah perusahaan kontraktor milik anak seorang pejabat tinggi di Kalsel. Di perusahaan ini dia menunjukkan dedikasi dan loyalitasnya dengan bekerja keras, sungguh-sungguh, dan berusaha selalu menjaga prinsip jujur yang bertekad digenggamnya selepas meninggalkan tanah kelahiran.

‘’Dari situ lama-lama saya ditawari membikin perusahaan. Pada tahun 2000, proyek pertama saya adalah membangun masjid di Kecamatan Tanjung dari Bupati Tabalong, Kalsel, kala itu,’’ ujar ayah dua anak ini mengenang.

Bagi Warsito, tawaran tersebut jelas sebuah peluang. Urusan bangun-membangun memang bukan hal baru mengingat dia sudah berpengalaman bekerja bersama kontraktor. Bangunan utama masjid tidak menjadi masalah baginya. Tapi dia merasa dihadapkan pada tantangan pada bagian kubah masjid itu.

Apalagi dia menginginkan bangunan masjid lengkap dengan kubahnya itu nanti terlihat tidak hanya kukuh dan mewah, tetapi juga unik dan artistik. Harus ada diferensiasi dan nilai lebih. Dengan demikian, bagi yang memandangnya, bangunan masjid dan kubah itu berbeda dengan yang lainnya.

Setelah berpikir mencari solusi, Warsito teringat pada rekan-rekannya yang mengerjakan kubah Masjid Al Akbar (Masjid Agung) Surabaya. Saat itu tahun 2000, proyek Masjid Agung Surabaya hampir rampung.

Bersama rekan-rekannya yang mengerjakan kubah Masjid Agung Surabaya, pada tahun itu pula Warsito mendirikan PT Bangun Kubah Sarana. Selain sebagai pendiri, di perusahaan itu hingga kini Warsito menjabat sebagai direktur. Mengapa harus bernama Bangun Kubah Sarana?

‘’Karena sejak awal saya dan rekan-rekan memang menginginkan membuat sesuatu yang unik. Membangun kubah itu memberi tantangan khas, selain kami juga senang bisa berkontribusi bagi pembangunan tempat ibadah,’’ tutur Warsito.

PT Bangun Kubah Sarana berkembang pesat. Lebih dari 200 kubah masjid, sebagian besar juga termasuk bangunan utama dan pendukungnya, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke telah dibangun perusahaan yang dibidani Warsito itu. ‘’Beberapa kontraktor besar di Indonesia yang mengerjakan proyek membangun masjid juga sering memercayakan pembangunan kubahnya kepada kami,’’ tutur lelaki yang kini juga menjabat sebagai Pimpinan Gabungan Kontraktor Indonesia (Gakindo) Kabupaten Malang ini.

Bila Anda menatap kubah Masjid Baiturrahman di Kepanjen-Malang, Masjid Al-Fithrah Surabaya, Masjid Agung Gresik, Masjid Agung Tuban, dan Masjid Agung Trenggalek (semuanya di Jawa Timur), itulah beberapa hasil karya PT Bangun Kubah Sarana yang didirikan Warsito. Begitu juga dengan Masjid Raya Semarang di Jawa Tengah.

Juga di Sulawesi Selatan seperti Masjid Raya Makassar, Masjid Raya Maros, Masjid Agung Soppeng, dan Masjid Raya As-Salam Bone. Sedangkan di Kalsel, tempat Warsito memulai perjuangan, selain proyek pertama masjid di Tanjung-Tabalong itu, PT Bangun Kubah Sarana juga mengerjakan Masjid Al-Karamah Martapura, Masjid Nurul Falah Tapin, Masjid Raya Amuntai, dan masih banyak lagi.

Masjid Nurul Falah di Tanah Grogot (Kalimantan Timur), Masjid Shirothol Mustaqim di Muara Teweh (Kalimantan Tengah), serta Masjid Raya Karimun (Kepulauan Riau) juga tidak lepas dari polesan PT Bangun Kubah Sarana.

‘’Saat ini kami juga sedang mengerjakan tahap kedua pada proyek pembangunan dua lantai masjid di Murung Raya, Puruk Cahu, Kalteng. Masjid ini akan menjadi yang terbesar dan diharapkan menjadi icon Kalteng, dengan bangunan induk saja berukuran 67 x 67 meter. Belum termasuk bangunan untuk perkantoran, tempat wudlu, maupun menara yang semuanya di luar bangunan utama,’’ kata Warsito.

Lelaki yang kini juga menjabat Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Malang itu mengaku tersentuh dan sangat apresiatif terhadap pembangunan masjid di Murung Raya, Puruk Cahu, itu. Bupati dan pejabat penting lainnya di sana non-muslim, tetapi sangat memerhatikan tempat ibadah bagi umat Islam.

Melihat ekspansi itu, Worlwide Quality Assurance (WQA)-UKAS Quality Management pada 2008 memberikan sertifikasi manajemen mutu ISO-9001 kepada PT Bangun Kubah Sarana. Setahun sebelumnya PT Bangun Kubah Sarana juga mendapatkan apresiasi OHSAS 18001 untuk manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Sesuai namanya, meski selama ini proyeknya lebih didominasi membangun masjid dan kubah, ternyata perusahan yang didirikan Warsito tersebut juga banyak menerima tender membangun yang non-masjid. ‘’Kami juga sudah mengerjakan proyek membangun jembatan, pasar, dan rumah sakit, serta bangunan lainnya,’’ tutur Warsito.

Di antara yang non-masjid itu, misalnya, gedung Islamic Center Samarinda, Gedung Olahraga Banjarbaru dan Gedung DPRD Tanah Bumbu (keduanya di Kalsel). Seperti kubah masjid, semua proyek itu menggunakan baja khusus yang diimpor dari Jepang dan dikerjakan sendiri oleh karyawan PT Bangun Kubah Sarana di workshop yang menyatu dengan bangunan dan kantor di kawasan Jalan Raya Brigjen Katamso, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur.

Soal resep suksesnya, Warsito menjawab sederhana: jujur, ikhlas, trust (kepercayaan), serta menempatkan kepuasan konsumen sebagai prioritas. ‘’Apalagi yang kami tangani ini masjid, jelas kami tidak mau main-main. Jika perusahaan lain umumnya memberikan garansi 6 bulan hingga 1 tahun, jika atap atau kubah yang kami bangun itu, misalnya bocor, sampai dua hingga tiga tahun, bahkan kapan pun, akan kami perbaiki asalkan kerusakan itu murni, bukan akibat kesalahan kerja pihak lain. Kami juga senang bila ada tantangan berupa permintaan kubah dengan desain yang mereka inginkan.’’

Keluarga dan Manajemen Kekeluargaan

Seiring perkembangan usahanya, jelas waktu Warsito banyak dihabiskan di luar rumah kediamannya di Malang. Sehari dia di Malang, bisa saja dua hari kemudian di Kalimantan, lalu ke Sulawesi, terus ke beberapa tempat lainnya. Mobilitas ini dilakukan mengingat dia harus mengunjungi proyek-proyeknya yang tersebar di berbagai wilayah.

‘’Anak saya juga sering protes, minta saya di rumah saja. Tapi beruntung keluarga saya mendukung, sehingga bisa memberi pengertian kepada mereka,’’ ujarnya.

Menyadari tuntutan manajemen waktu itu, Warsito tidak menilainya sebagai beban. ‘’Hidup tiada henti bekerja, tapi ya itu, kerja sambil jalan-jalan, jalan-jalan sambil bekerja,’’ tuturnya, disambung derai tawa.

Toh Warsito juga tidak harus terpaku di satu lokasi proyeknya. Sebab selain di tempat-tempat lain juga ada kantornya, urusan proyek di lapangan sudah dipercayakan penuh kepada para mandornya. Dengan handphone di tangan yang selalu aktif, kapan pun dia bisa berkoordinasi dan memberikan solusi bila anak buahnya menghadapi masalah di lapangan.

‘’Saya percaya sepenuhnya kepada mereka. Mereka semua baik dan saya bersyukur mendapatkan orang-orang seperti itu,’’ ucap Warsito, yang kini sudah memiliki lebih dari 100 karyawan tetap dan ratusan lainnya tenaga lepas untuk berbagai proyek di berbagai daerah.

Kepercayaan itu tumbuh karena Warsito menerapkan manajemen kekeluargaan di perusahaannya, memperlakukan mereka sebagai keluarga besar. Hubungan batin yang harus ditumbuhkan dan bukan hubungan struktural yang kaku. Untuk menumbuhkan spirit kekeluargaan itu, berbagai kegiatan yang melibatkan karyawan dan keluarganya pun digelar PT Bangun Kubah Sarana.

‘’Di kantor Waru itu rutin digelar pengajian tiap pekan yang diikuti karyawan dan keluarganya. Berkala kita juga rekreasi bersama, sewa vila, bakar ikan rame-rame… Pokoknya agar semua bahagia. Ada juga arisan, membantu karyawan dengan kredit tanpa bunga atau bunga ringan yang kami siap membantu urusannya dengan bank. Kalau ada hasil lebih, ya dibagi. Pokoknya bagaimana bersama merasa memiliki perusahaan ini. Semua ini saya lakukan karena saya tahu dan sudah merasakan bagaimana rasanya berjuang dalam hidup ini,’’ tutur Warsito.

Solichin I Malang

Tabloid FORSAS Edisi 07/November 2009

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: