Cari

BELANTARA CAK SOL

MENCOBA BEDA BUKAN DOSA

PIALA DUNIA 2014: ”Kuda Hitam” dan ”Tahun Kuda Kayu”

Neymar dkk ketika menjuarai Piala Konfederasi 2013 setelah menggilas Spanyol, juara dunia dan juara Eropa, 3-0 di partai final di Stadion Maracana Rio de Janeiro, Brasil, 1 Juli 2013. Akankah peruntungan ''Tahun Kuda Emas'' berpihak ke mereka?
Neymar dkk ketika menjuarai Piala Konfederasi 2013 setelah menggilas Spanyol, juara dunia dan juara Eropa, 3-0 di partai final di Stadion Maracana Rio de Janeiro, Brasil, 1 Juli 2013. Akankah peruntungan ”Tahun Kuda Emas” berpihak ke mereka? PHOTO: REUTERS | KAI PFAFFENBACH

PERTANDINGAN sepak bola, tidak terkecuali di ajang Piala Dunia, bukan arena tos-tosan. Kesiapan mental dan fisik menjadi kunci kesuksesan. Meski bukan klenik, sepak bola toh juga kerap diwarnai kejutan-kejutan yang bertumpu pada faktor luck alias peruntungan.

Piala Dunia 2014 Brasil pada Juni-Juli mendatang sekiranya tidak terlepas dari kemungkinan itu. Spanyol, sang juara Eropa beruntun dalam dua edisi terakhir dan juara Piala Dunia 2010, masih layak diperhitungkan. Begitu pula Jerman dan Belanda yang berperforma fantastis sepanjang babak penyisihan mereka di Zona Eropa.

Gairah menantikan kejutan di Brasil semakin bertambah dengan kehadiran Inggris. Rasanya tidak lengkap persaingan di arena sepak bola mondial ini tanpa kehadiran timnas The Three Lions.  Dengan kompetisi domestik Premier League dinilai paling mentereng di dunia, sukses melampaui ujian cukup menantang pada penyisihan level benua, plus seri 2-2 saat laga persahabatan melawan tuan rumah Brasil pada peresmian Stadion Maracana, terlalu dini kiranya menilai Inggris mati harapan.

Namun, sebagaimana diulas Jon Harvey di The Metro, dengan bintang-bintang seperti Eden Hazard, Vincent Kompany, Romelu Lukaku, Jan Vertonghen, Mousa Dambele, Christian Benteke, dan Marouane Fellaini, timnas Belgia serasa lebih pas mewakili Premier League ketimbang The Three Lions. Belgia pun layak sebagai dark horses alias ‘’kuda hitam’’ di Piala Dunia 2014.

Debutan Bosnia-Herzegovina yang diperkuat pemain-pemain berkualitas seperti Edin Dzeko, Asmir Begovic, serta Miralem Pjanic juga sekiranya patut masuk kategori ‘’kuda hitam’’ itu. Selama babak penyisihan grup, Pelatih Safet Susic berhasil menyuntikkan semangat tempur luar biasa kepada skuadnya.

Peningkatan performa timnas-timnas Asia, sudah menghitung Australia, sejak Piala Dunia 2002 belum bisa otomatis dianggap enteng. Timnas dari benua ini seperti Jepang dan Korea Selatan tetap potensial menjadi batu sandungan tim benua-benua lain yang lebih punya nama. Potensi ini dimiliki tim-tim dari Zona Amerika Tengah, Utara, dan Karibia (CONCACAF) seperti  Meksiko dan Amerika Serikat.

Sukses mengejutkan Ghana ke perempat final Piala Dunia 2010 bakal menyemangati tim-tim dari Benua Hitam Afrika. Dari sejumlah tim Afrika yang lolos ke putaran final di Brasil kali ini, fokus sepertinya tertuju ke Pantai Gading. Dengan performa Didier Drogba, Wilfried Bony, Salomon Kalou, dan Yaya Toure masih berkilau terang, The Elephants tetap menjadi ancaman yang sangat layak diperhitungkan tim-tim rival, tidak terkecuali dari Amerika Latin yang menjadikan Piala Dunia 2014 ini sebagai rumah mereka.

Piala Dunia di ‘’Tahun Kuda’’

Sebagaimana diketahui, 2014 dalam kalender China merupakan ‘’Tahun Kuda Kayu’’. Sebelumnya enam kali Piala Dunia juga digelar di ‘’Tahun Kuda’’ dengan proses dan hasil yang cukup menarik dicermati. Keenam Piala Dunia sebelumnya itu adalah 1930, 1954, 1966, 1978, 1990, dan 2002.

Mengilas peruntungan pada tahun-tahun penyelenggaraan itu, tuan rumah bisa berharap banyak. Dari enam kali penyelenggaraan di ‘’Tahun Kuda’’, separuh atau 50 persen dijuarai oleh tuan rumah. Pada Piala Dunia 1930 di Uruguay, tuan rumah mengalahkan Argentina di final 4-2, Inggris mengungguli Jerman Barat 4-2 di final Piala Dunia 1966, dan Argentina menundukkan Belanda 3-1 di final Piala Dunia 1978.

Menilik performa Piala Dunia di ‘’Tahun Kuda’’, hanya lima negara yang mencatatkan sukses sebagai juara. Mereka adalah Uruguay, Jerman/Jerman Barat yang menjuarai Piala Dunia 1954 setelah menumbangkan tim favorit Hungaria 3-2 di final, Inggris, Argentina, dan Brasil yang mengandaskan Jerman 2-0 di final Piala Dunia 2002 —Piala Dunia untuk kali pertama digelar di benua Asia. Dari lima negara yang masih didominasi Eropa dan Amerika Latin itu, performa Jerman dan Argentina yang terbilang mentereng.

Jerman juara dua kali di ‘’Tahun Kuda’’ dan dua kali masuk partai final (1966 dan 2002). Sedangkan Argentina sekali juara dan dua kali masuk partai final (1930 dan 1990). Berbeda dengan Argentina, dua kali Jerman menjuarai Piala Dunia yang tidak digelar di rumah sendiri. Bahkan pada 1954, sukses Jerman meraih trofi pertama Piala Dunia-nya ini terbilang ‘’ajaib’’ sehingga melahirkan sebutan Miracle of Bern (Keajaiban di Bern) di dalam negeri.

Betapa tidak, Hungaria ketika itu adalah raja Eropa. Pada babak penyisihan Piala Dunia 1954 itu pun Jerman dipaksa bertekuk lutut 3-8. Namun di final Jerman justru menggulingkan prediksi dan membangkrutkan bandar taruhan dengan meng-kick balik Ferenc Puskas dkk di timnas Hungaria.

Masihkah peruntungan Jerman moncer di ‘’Tahun Kuda Kayu’’ pada 2014 ini? Menarik ditunggu. Dengan anggota skuad yang sebagian besar sama, timnas polesan Joachim Loew kali ini hadir di Brasil dengan lapar prestasi yang teramat hebat. Der Panzer tersisih di semifinal Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.

Atau, masihkah ‘’hukum’’ Jerman dan tim-tim Eropa serta benua lainnya tidak pernah bisa menjuarai Piala Dunia di ranah Amerika Latin bertahan pada 2014 ini? Jika masih berlaku, sekiranya tuan rumah Brasil bisa berharap peruntungan lebih besar. ‘’Tahun Kuda’’ pada 2002 menjadi acuan. Dengan talenta-talenta gemilang yang dimilikinya sekarang —ditambah faktor sang pelatih saat ini, Luiz Felipe Scolari yang andil membawa Brasil merengkuhi Piala Dunia kelimanya pada 2002 itu— Brasil serasa memiliki segalanya.

Jika demikian, sekiranya Lionel Messi dkk di timnas Argentina mengharapkan keberuntungan ‘’Tahun Kuda’’ kali ini tidak berpihak ke Brasil, melainkan ‘’kesialan’’ sebagai tuan rumah yang gagal juara sebagaimana di Piala Dunia 1950. Begitu pula Uruguay yang ingin mengulang sukses tuah ‘’Tahun Kuda’’ di ranah Amerika Latin sebagaimana Argentina. Tim-tim lain seperti Cile dan Kolombia pasti juga menyiapkan kejutan dan, siapa bisa mengira, ‘’keajaiban’’ sebagaimana yang dicatat Jerman Barat di ranah Eropa di Piala Dunia 1954.

Menarik ditunggu. Semua mafhum tim paling siap strategi dan mental lah yang bakal tampil sebagai juara. Namun, semua juga tidak bisa menyangkal faktor luck kadang hadir di pertandingan-pertandingan krusial seperti Piala Dunia.

PIALA DUNIA DI ‘’TAHUN KUDA’’: PIALA DUNIA 2002 – Korea-Jepang (Brasil juara); 1990 – Italia (Jerman juara); 1978 – Argentina (Argentina juara); 1966 – Inggris (Inggris juara); 1954 – Swiss (Jerman Barat juara); 1930 – Uruguay (Uruguay juara)

* Tulisan ini dimuat di HARIAN NASIONAL edisi 10 Februari 2014

Featured post

Razmena dan Kegamangan Sochi

Kembang api di Stadion Olimpiade Fisht di Olympic Park saat geladi resik upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, Selasa 4 Februari 2014. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK
Kembang api di Stadion Olimpiade Fisht di Olympic Park saat geladi resik upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014, Selasa 4 Februari 2014. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK

PEREMPUAN bernama Razmena Akhmadievna Ibragimova ini beberapa hari terakhir begitu populer di Rusia, khususnya di Sochi. Bekas wilayah tetirah yang telah disulap sedemikian takjub sebagai jujugan tidak kurang 6.000 atlet dari 85 negara yang bakal bersaing demi superioritas di ajang Olimpiade Musim Dingin 2014 pada 7-23 Februari. Belum lagi 1.650 atlet Paralympic dari 45 negara. Juga puluhan ribu penonton, pelancong, serta jurnalis dari berbagai jengkal jagat.

Siapakah Razmena? Rusia menyebutnya black widow. Ia dilahirkan pada 6 Juni 1991. Jadi usianya 22 tahun. Seperti julukannya, widow, ia adalah janda. Menurut Moskow, dua pekan sebelum olimpiade bergulir Razmena sempat didapati berkeliaran di jantung Kota Sochi. Ia ditengarai memetakan target bom bunuh diri.

Razmena mungkin tidak sendiri. Beberapa janda lainnya (black widows) juga dimungkinkan siap melancarkan aksi bunuh diri untuk menuntut balas atas kematian suami-suami mereka —kaum militan di Chechnya dan wilayah Kaukasus Utara— di tangan militer dan pasukan keamanan Rusia.

Janda-janda seperti Razmena, di mata Rusia, jelas superbahaya. Apalagi jika mereka sampai luput dan mampu menyerang ketika olimpiade yang jauh-jauh hari disiapkan Presiden Vladimir Putin sebagai ‘’pesta termegah sepanjang sejarah’’ itu diguncang bom. Susah dibayangkan pastinya.

Poster sketsa wajah Razmena Akhmadievna Ibragimova di sebuah toko grosir di Distrik Adler, Sochi. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK
Poster sketsa wajah Razmena Akhmadievna Ibragimova di sebuah toko grosir di Distrik Adler, Sochi. PHOTO: REUTERS | ALEXANDER DEMIANCHUK

Alhasil, di tempat-tempat umum seperti stasiun, terminal bus, pusat-pusat perbelanjaan hingga toko-toko kelontong di Sochi dan sekitarnya, sketsa wajah Razmena menghiasi selebaran yang tertempel betebaran. Rusia merasa wajib ekstrawaspada dan, sebagaimana dikatakan Presiden Putin, tidak takut karena sudah tahu betul cara mengantisipasi serta mengatasi setiap ancaman yang muncul.

Toh, kegamangan publik global tetap menggelayut. Mereka mencemaskan tragedi serangan kaum militan pada Olimpiade Musim Panas Munich 1972 berulang di Sochi. Juni lalu, dalam rekaman video pemimpin gerilyawan Chechnya Doku Umarov menyerukan ‘’jihadis’’ mengerahkan seluruh daya dan strategi untuk menggagalkan penyelenggaraan olimpiade yang ia sebut sebagai ‘’tarian setan di atas tulang-belulang leluhur kami’’.

Umarov juga mengklaim kelompoknya sebagai pelaku serangkaian serangan bunuh diri yang terjadi sebelumnya, termasuk pengeboman di Moskow pada 2010 dan 2011 yang menewaskan lebih dari 70 orang.

Bulan lalu dua lelaki dari kelompok militan di Dagestan mem-posting video di internet dan mengultimatum Presiden Putin agar membatalkan perhelatan Olimpiade Sochi. Jika tidak, gertaknya, mereka akan memberikan ‘’hadiah’’ kepada Putin dan para pengunjung olimpiade. Keduanya juga mengklaim sebagai pelaku bom bunuh diri ganda di Kota Volgograd, belahan selatan Rusia, bulan lalu yang menewaskan 34 orang.

Bom bunuh diri ganda di Volgograd yang mendekati perhelatan olimpiade itu, mau tidak mau, tetap memunculkan kecemasan terhadap keamanan Sochi meski Rusia telah menguatkan benteng pertahanan ‘’ring of steel’’ di sekitar kota itu. Bahkan, seperti dilansir TIME, Moskow juga berketetapan mengerahkan sedikitnya 40 ribu personel keamanan di Sochi yang telah disuntik dana US$ 50 miliar untuk dijadikan kompleks tuan rumah olimpiade sejak kota itu dipilih sebagai tuan rumah pada Juli 2005 silam.

Pelajaran dari Super Bowl

Menjelang akhir bulan lalu para pejabat Rusia mengakui tiket Olimpiade Sochi baru terjual 70 persen. Artinya, teror telah memengaruhi animo calon penonton maupun pengunjung. Masih cukup banyak yang mencemaskan faktor keamanan dan keselamatannya meski Rusia telah menggaransi.

Untuk meminimalisasi kecemasan keamanan tersebut, Pentagon dan FBI menawarkan bantuan pengamanan, termasuk pengerahan armadanya yang ada di Laut Hitam, saat berlangsung olimpiade dalam koordinasi dengan otoritas Moskow. Namun sejauh ini belum ada respons dari Rusia. Berdasarkan pengalaman Rusia alergi mengizinkan personel militer dan keamanan asing menginjak wilayahnya dalam hajatan yang ia selenggarakan sehingga hampir mustahil tawaran AS tersebut diterima.

Meski demikian, AS tidak melihat enteng setiap ancaman terhadap olimpiade itu. Menhan AS Chuck Hagel menyatakan negaranya tetap akan ‘’melakukan pembicaraan menyangkut beberapa tindakan yang tepat’’ dengan Rusia guna menjamin keamanan evakuasi atlet dan warga AS jika nanti memang diperlukan.

Di Olimpiade Sochi, AS mengirimkan sekitar 230 atlet didampingi 270 pelatih dan ofisial pendukung setiap cabang olahraga. Sekitar 10 ribu pengunjung asal AS diperkirakan hadir di kota tepian Laut Hitam yang membentang 27 mil di arah utara dari Georgia tersebut. Kontingen AS disertai oleh delegasi beranggotakan lima orang dipimpin Janet Napolitano, mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri.

Kepada Reuters, beberapa pejabat senior di pemerintahan Presiden Barack Obama mengatakan, Rusia memiliki tanggung jawab utama jika terjadi insiden selama olimpiade berlangsung. Jika evakuasi terpaksa harus dilakukan, militer AS bisa melakukan sewaktu-waktu baik dengan pesawat militer maupun carter. Meski demikian, kata seorang pejabat AS, sejauh ini belum ada rencana evakuasi berupa konsep matang yang siap dijalankan. Namun AS selalu siap seandainya operasi mengeluarkan warganya dari Rusia selama olimpiade harus dilakukan.

Sebagaimana para pengamat, para pejabat AS meyakini ancaman jelang event-event besar yang menjadi fokus dunia seperti olimpiade bukan hal baru. Bisa saja itu cuma gertakan. Namun antisipasi tetap perlu dilakukan. Di antaranya, tetap memberlakukan standar pelarangan atlet mengenakan kostum tim di luar kompleks pertandingan maupun perkampungan atlet.

Di sisi lain, sebagaimana dilaporkan The Washington Post, AS berharap Rusia bisa memetik ‘’pelajaran’’ dari observasi yang mereka lakukan saat berlangsung pertandingan Super Bowl XLVI di Indianapolis pada Februari 2012 dalam pengamanan Olimpiade Sochi. Saat itu David Rubincam, Atase Hukum FBI di Moskow, mengantarkan delegasi beranggotakan lima perwira senior pada Dinas Keamanan Federal (FSB–intelijen Rusia) mengobservasi stadion tempat pertandingan.

Dengan mata telanjang, ujar Rubincam, para perwira FSB itu tidak melihat pasukan keamanan bersenjata di berbagai sudut stadion dan sekitarnya. ‘’Kami sebenarnya menempatkan banyak personel keamanan siaga tetapi partisipan tidak melihatnya. Itulah yang kalian butuhkan,’’ ujar Rubincam kepada delegasi FSB. Ia menjelaskan, snipers sebenarnya ada di berbagai sudut stadion dan sekitarnya tetapi tidak tampak mata publik.

Lisa Monaco, penasihat kontraterorisme Obama, ditunjuk sebagai pemimpin panel kerja sama antaragen intelijen untuk mengoordinasikan dukungan AS pada Olimpiade Sochi jika dibutuhkan. Namun Rubincam, yang bertugas di Moskow dalam rentang Mei 2011 hingga Oktober 2012, mengakui sejauh ini Rusia masih enggan menerima bantuan AS untuk pengamanan Sochi, bahkan masih terkesan mencurigainya.

Rusia, kata Jim Treacy –mantan agen FBI yang juga pernah bertugas sebagai atase hukum di Moskow, masih curiga AS bakal melakukan penyadapan dan pengumpulan data intelijen ketika kerja sama keamanan dan kontraterorisme berlangsung.

Sasaran Antara

Mark Galeotti, pakar keamanan Rusia di New York University, masih meyakini yang ancaman militan terhadap Olimpiade Sochi baru sebatas teror. Dalam tataran teror, bisa dibilang mereka telah berhasil menciptakan kegamangan. Namun menyiapkan aksi bunuh diri, sebagaimana dimaksud Umarov dengan black widows, merupakan ‘’senjata yang rentan’’ di tengah pengamanan ekstraketat saat olimpiade bergulir.

Yang justru layak dicermati adalah serangan-serangan seperti di Volgograd yang jauh dari basis militan di Kaukasus Utara. Serangan seperti itu bisa dibilang sebagai ‘’sasaran antara’’, di luar Sochi tetapi tetap mampu menimbulkan kepanikan di Sochi.

‘’Ketakutan terbesar adalah serangan-serangan di Volgograd ini seperti taktik diversi. Sebelum setiap teroris menyerang Rusia, militan memakai pengalihan seperti ini. Mereka mengorganisasi serangan-serangan teroris berskala kecil di wilayah-wilayah lain,’’ ujar Andrei Soldatov, pemimpin redaksi Agentura.ru, sebuah website yang mencermati isu keamanann Rusia.

Meski saat pesta bergulir nanti tidak ada bom, harus diakui militan telah berhasil membuat gamang perhelatan Olimpiade Sochi. Penjualan tiket yang baru 70 persen adalah salah satu bukti. Rusia harus bekerja keras menggaransi pesta termahal sepanjang sejarah itu aman dan lancar.

* Beberapa bagian tulisan ini dimuat di HARIAN NASIONAL edisi Minggu 26 Januari 2014

Saat ‘’Politikus Plagiat’’ Ingin Balik ke Pentas

Cukup lama menghilang dari layar publik, tiba-tiba Karl-Theodor zu Guttenberg muncul lagi mengiringi euforia kesepakatan awal koalisi jilid kedua Uni Demokratik Kristen (CDU)-nya Kanselir Angela Merkel dengan Partai Demokrat Sosial (SPD). Akankah mantan menteri pertahanan yang dipaksa mundur akibat tuduhan plagiarisme ini kembali ke pemerintahan?

KARL-THEODOR ZU GUTTENBERG. PHOTO: REUTERS | THIERRY ROGE
KARL-THEODOR ZU GUTTENBERG. PHOTO: REUTERS | THIERRY ROGE

HAMPIR semua panggung politik dunia memiliki kisah ini. Karier seorang politikus begitu cemerlang, melesat bagai pesawat luar angkasa, namun sangat cepat pula jatuh bak meteor menghunjam bumi. Jika tidak karena tuduhan korupsi atau main perempuan, bisa pula menjadi korban framing perebutan kekuasaan di internal serta eksternal partai maupun lembaga kekuasaan.

Di Jerman pasca-Perang Dunia II, Karl-Theodor zu Guttenberg terbilang satu di antara politisi berkarier sangat cemerlang itu. Saat berada di puncak kariernya pada 2009, ia menduduki jabatan menteri keuangan lalu menteri pertahanan. Bahkan saat itu ia mulai digadang-gadang sebagai penerus Merkel.

Sejak muda Guttenberg memang dikenal kritis dengan kemampuan analisis yang tajam. Ia juga karismatik. Alhasil ia pun menjadi media darling karena tidak pelit berbicara kepada media tentang berbagai isu yang terbilang kontroversial, mulai dari perang di Afghanistan hingga langkah penyelamatan pabrik automotif Opel. Kala itu media menilai beruntung Merkel yang sangat hati-hati memiliki junior pemberani seperti Guttenberg. Sebuah perpaduan yang tepat.

Jerman belum pernah memiliki politikus seperti dia. Trah Guttenberg dari Leopold II, Kekaisaran Suci Roma pada akhir abad ke-18, membuat karismanya kian terang. Apalagi ia dikenal bukan sosok politikus yang begitu disibukkan dengan penampilan jaim alias jaga imej. Ia tidak segan-segan berkumpul dengan kaum munda penggandrung musik cadas menonton konser AC/DC di malam hari.

Berkumpul dengan kalangan jetset dan sosialita juga superbiasa disokong kegemaran istrinya, Stephanie, yang tampil glamour. Stephanie adalah cicit Otto von Bismarck, kanselir pertama Jerman.

Pun ‘’dosa sejarah’’ Jerman juga tidak melekat kepadanya mengingat keluarga pendahulunya adalah para penentang Nazi. Kakeknya bahkan disebut-sebut sempat lolos dari eksekusi Nazi karena mengatakan lebih baik membunuh perwira SS (Agen Rahasia)-nya Nazi ketimbang warga Yahudi.

Pendek kata, modal seorang politikus telah lengkap dimiliki Guttenberg. Namun siapa sempat mengira pada Maret 2011 dengan hati redam ia harus menanggalkan jabatannya, lantas meninggalkan Berlin menuju New York. Karier politik sosok yang sempat difavoritkan sebagai salah satu kandidat pengganti Kanselir Merkel ini terjun bebas akibat tuduhan plagiarisme. Media membeber habis-habisan sang politikus cemerlang itu ternyata menjiplak sejumlah besar karya orang lain untuk tesis doktornya.

Kepergian Guttenberg disayangkan tidak hanya kalangan politisi sehaluan yang konservatif, namun juga mereka di oposisi yang beraliran kiri. Bahkan Kanselir Merkel dengan berat hati menerima pengunduran dirinya.

Sejak itu Guttenberg lebih banyak menghabiskan waktu bersama Stephanie beserta dua anak perempuannya di lokasi hunian kalangan berpunya di pinggiran New York, tepatnya di Greenwich, Connecticut. Ia bukan warga negara namun diangkat sebagai ‘’negarawan kehormatan’’ oleh lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington. Di ‘’pengasingannya’’ itu pula Guttenberg menjabat sebagai duta besar Komisi Eropa untuk program inisiasi kebebasan berinternet.

Awal bulan lalu, saat partainya sibuk membincang rencana koalisi dengan SPD pascakemenengan di pemilu serta memprotes bukti penyadapan yang dilakukan agen-agen Amerika Serikat di telepon selulernya, diam-diam Merkel menerima Guttenberg dan berbicara selama satu jam di Kantor Kanselir. Spekulasi pun muncul, Guttenberg siap comeback di pentas politik Jerman.

Sejauh ini materi pembicaraan rahasia Merkel dan Guttenberg masih misteri. Guttenberg sendiri enggan membeber inti pembicaraan dalam pertemuan dengan Merkel itu. Menjawab permintaan wawancara khusus Reuters, ia hanya bilang sebelumnya kerap pulang kampung namun dilakukannya sangat diam-diam. Ia juga tidak mau dijebak untuk menjawab kemungkinannya kembali menerjuni politik Jerman.

‘’Saya sangat bahagia di sini. Akhirnya saya bisa menyelami berbagai topik yang biasanya politisi selalu berpura-pura paham namun sejatinya mereka tidak memiliki banyak pengetahuan tentang topik-topik itu,’’ tuturnya.

Saat di AS, Guttenberg mengakui banyak mendapatkan perspektif baru. Ia pun mengaku bisa berpendapat lebih jernih. Meski tetap menjalin hubungan akrab dengan Merkel, dalam sejumlah tulisan opini-editorial ia kerap mengkritisi policy pemerintahan seniornya itu, mulai dari kebijakan luar negeri hingga keamanan.

Pada akhir 2012, di Financial Times ia mengkritik sikap pemerintahan Berlin yang menghalangi merger industri dirgantara dan pertahanan Prancis-Jerman EADS dengan BAE Systems-nya Inggris. Menurut Guttenberg, kegagalan merger itu merupakan ‘’kehilangan kesempatan mengambil langkah bersejarah’’.

Agustus lalu, saat tudingan Suriah menggunakan senjata kimia kian deras mengalir, di The New York Times ia mengkritik ‘’budaya selalu enggan’’ dalam keterlibatan militer. Jerman seharusnya terlibat sebagaimana negara-negara kekuatan utama dunia lainnya. Namun pandangan Guttenberg ini banyak diserang media lokal.

‘’Semua itu saya maksudkan sebagai pengingat,’’ kata Guttenberg, politikus asal Bavaria yang tergabung di Uni Sosial Kristen (CSU), mitra ‘’koalisi sejati’’ CDU-nya Merkel.

Menguji Penerimaan Publik

Sejumlah media Jerman menilai memertahankan inti pembicaraan Merkel dan Guttenberg tetap misterius merupakan upaya mengetahui sejauh mana publik bereaksi dan bisa menerima kembali kehadiran politikus Bavaria itu. Namun mereka juga memandang, semuanya kembali kepada Guttenberg sendiri.

Satu persoalan mendasar, sejauh ini ia belum mau mengakui tindakan plagiat yang dilakukannya meskipun University of Bayreuth, kampus tempatnya meraih gelar Ph.D. pada 2006, telah memastikan Guttenberg telah ‘’banyak melanggar standar akademik dan sengaja berbohong’’. Media Jerman sepertinya juga bakal sangat berhati-hati memberinya tempat untuk meraih lagi kepercayaan publik setelah merasa ‘’dikhianati’’ oleh sosok yang telah dijadikannya sebagai bintang itu.

Namun masih cukup banyak waktu bagi Guttenberg untuk memulihkan diri. Usianya kini baru 41 tahun. Ia juga masih dibutuhkan oleh CSU. Tahun lalu Ketua CSU Horst Seehofer bahkan berjanji membawanya pulang setelah pemilu parlemen federal pada September 2013. Di pemilu itu koalisi CDU-CSU menang dan, terbukti, Guttenberg pulang serta berkesempatan berbicara langsung di kantor pemerintahan bersama Kanselir Merkel.

Jika ia benar hendak kembali, sejumlah pengamat menilai tempat yang paling pas baginya untuk membangun lagi karier politik adalah di Bavaria, kampung halamannya. Selain kemampuannya yang masih terbilang brilian, di wilayah itu pula keluarganya tinggal sejak abad ke-12 dan menetap di kastil keluarga yang dimiliki sejak 1482.

‘’Bisakah itu terwujud beberapa tahun lagi dari sekarang? Mungkin saja. Guttenberg masih sangat populer, bahkan juga di kalangan Sosial Demokrat. Untuk mendapati politikus muda Jerman sekarismatik dia, Anda baru bisa menjumpainya ke masa muda Helmut Schmidt,’’ ujar Juergen Falter, pengamat politik di Mainz University.

Beberapa tahun lagi. Bukan sekarang. Itulah penilaian Falter. ‘’Memori orang atas inti plagiarisme itu masih tajam.’’

* Dimuat HARIAN NASIONAL, A4, 1 DESEMBER 2013

Myam, ‘’Penyambung Lidah’’ Gadis Arab

‘’Yang jadi masalah bukan gadisnya – masyarakat lah yang bermasalah.’’

SEMULA ia gadis biasa saja. Namun kini Myam Mahmoud menunjukkan kepada publik dunia ia gadis luar biasa. Media Arab dan dunia menyorot dan bergantian mewawancarainya. Gadis Mesir berusia 18 tahun ini tidak hanya mencuri perhatian, tetapi juga menghunjamkan kritik ke para penguasa di tengah kian maraknya kekerasan seksual kepada kaum perempuan.

Juga bagaimana kaum lelaki disebutnya gampang mengkritik, bahkan menghujat, cara perempuan berpakaian. Lelaki hampir jarang introspeksi diri bagaimana cara mereka memandang perempuan berpakaian.

MYAM MAHMOUD. PHOTO: RUTH POLLARD | THE SYDNEY MORNING HERALD
MYAM MAHMOUD. PHOTO: RUTH POLLARD | THE SYDNEY MORNING HERALD

Dengan lirik-lirik rap-nya, Myam –semifinalis ajang pencarian bakat di TV Arabs Got Talent pada Oktober lalu— kini terus meluncur dengan kritik-kritik kerasnya pada ‘’kemunafikan sosial’’, bersuara lantang demi hak para gadis, serta berusaha menyindir beban begitu berat yang dibebankan kepada para gadis di Timur Tengah.

Mahasiswa tahun pertama jurusan ilmu politik sebuah universitas di Mesir ini suka ngerap sejak berusia 10 tahun. Mula-mula ia menulis bait demi bait yang dimaksudkan sebagai sajak. Seiring pertumbuhannya, ia mulai menyukai hip-hop dalam bahasa Inggris dan Arab. Menginjak remaja, ia pun menemukan dunianya: ngerap dengan lirik-lirik tentang perempuan dan politik.

Puisi-puisi mendiang Ahmed Fouad Negm, yang dikenal sebagai ‘’penyair rakyat’’, diakui Myam sangat menginspirasi lirik-lirik rap-nya. Puisi-puisi Negm, yang wafat pada 3 Desember lalu pada usia 84 tahun, dikenal sangat tajam mengkritik penguasa Mesir. Masuk, keluar, masuk, dan keluar bui seturut pergantian rezim di Mesir ia jalani. Penyair sekuler-revolusioner ini juga berperan dalam gerakan menggulingkan Presiden Hosni Mubarak pada 2011 silam.

Myam tidak pernah bertemu Negm namun  ‘’bahasa rakyat’’ yang dipakai mendiang sangat disukainya. ‘’Aku begitu mengaguminya. Aku akan mengenang karya-karyanya. Takkan pernah aku bisa mengingat peristiwa politik di Mesir tanpa membaca puisi-puisinya,’’ tutur Myam.

Selain Negm, dua penyanyi perempuan Arab –Malikah, rapper Lebanon kelahiran Mesir dan Shadia Mansour, penyanyi hip-hop Palestina kelahiran Inggris yang lekat dijuluki ‘’First Lady of Arabic Hip-hop’’, juga menjadi inspirasinya. Di Timur Tengah, performa mereka lekat dengan nuansa politis namun terbukti berhasil mendapatkan tempat di genre musik yang masih didominasi kaum lelaki itu. Lagu-lagu rap Arab pun umumnya mengkritik cara perempuan berpakaian.

‘’Apa yang membuatku memulai semua ini, yang benar-benar membuatku marah, adalah lagu-lagu rap Arab terus-terusan mengkritik cara perempuan berpakaian. Seorang kawan dan aku lantas berpikir, ‘Mereka toh bukan satu-satunya orang yang boleh mengkritik’,’’ tuturnya dalam wawancara khusus dengan Ruth Pollard, jurnalis The Sydney Morning Herald di Timur Tengah.

Iklim politik Mesir yang belum stabil hingga kini setelah tergulingnya Mubarak, disusul dilengserkannya Mohamad Mursi  oleh militer, semakin memberi ruang segar bagi lirik-lirik kritik Myam. Mesir memang terbebas dari tiran, namun sebagaimana dilaporkan PBB belum lama ini, perempuan di Negeri Piramida itu tetap merasa belum bebas, bahkan semakin ditekan.

Laporan PBB menyatakan, kekerasan seksual dan tekanan mental, baik berupa tindakan maupun sekadar kata-kata, meningkat drastis setelah gelombang Revolusi Arab Springs yang turut menggulung kekuasaan Mubarak. Jajak PBB menunjukkan 99,3 persen perempuan Mesir menjadi korban kekerasan seksual.

‘’Kita tak bisa tetap diam,’’ tutur Myam. ‘’Para gadis memberitahuku, ‘Yang kau katakan persis seperti yang selalu ingin kami katakan’. Mereka mengatakan aku suaranya.’’

Umumnya para gadis di Mesir ‘’terpingit’’, tidak leluasa bergerak dan berkarier, serta sepertinya lebih disiapkan untuk menikah. Beruntung Myam karena orangtuanya tidak sekolot itu. Orangtuanya mengizinkan ia terus menuntut ilmu, berkarier, hingga terus ngerap. Berkat sukses di ajang pencarian bakat itu, ia kini mulai terus merekam lagu-lagu yang ditulisnya serta mengunggahnya di SoundCloud.

Sebagai muslimah, sehari-hari Myam berhijab. Namun cara berpakaian ini dinilainya tidak relevan dengan lirik-lirik lagunya, juga dengan pilihannya ngerap. ‘’Saat aku menulis, toh aku juga selalu tidak menggurui perempuan bagaimana mereka harus bersikap. Yang kukatakan kepada mereka adalah mereka memiliki nilai hakiki dan berhak untuk memilih,’’ tuturnya.

Protes begitulah. Kebebasan, bisa juga, seperti tertuang dalam lirik Myam berikut: Bagaimana bisa kau menilaiku dari rambut atau cadarku? Kalian, para kucing, memanggil dan melecehkan, pikirmu itu benar, tak salah. Meski semua itu sekadar kata-kata, semuanya seperti batu, tau?

Lalu, dalam lirik tembang I Am Not a Cigarette (Aku Bukan Sebatang Rokok), Myam pun menghentak laksana menyanyikan lagu kebangsaan. ‘’Dimulai dari ciuman, lalu berakhir dicampakkan.’’ Maksudnya, nasib perempuan kadang tidak berbeda dengan sebatang rokok, dicium dulu kemudian dilemparkan ke tanah.

Salahkah perempuan, apa yang salah dengan perempuan? Lirik pun berlanjut, ‘’Yang jadi masalah bukan gadisnya – masyarakat lah yang bermasalah.’’ 

* Dimuat di HARIAN NASIONAL, C32, 23 Desember 2013 

Nicolas Sarkozy: Sepak Bola dan Comeback Politik *

Mantan Presiden Prancis  Nicolas Sarkozy (kiri) disambut Presiden Paris Saint-Germain Nasser al-Khelaifi sebelum laga PSG vs Monaco di Stadion Parc des Princes Stadium Paris, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS | BENOIT TESSIER
Mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy (kiri) disambut Presiden Paris Saint-Germain Nasser al-Khelaifi sebelum laga PSG vs Monaco di Stadion Parc des Princes Stadium Paris, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS | BENOIT TESSIER

Harimau tidak akan pernah menjadi vegetarian.

DARAH politik selalu mengaliri tubuh politikus sejati hingga ajal menjemput. Nicolas Sarkozy, mantan Presiden Prancis yang tahun lalu dipaksa menyerahkan jabatan kepada Francois Hollande, dinilai banyak orang masih memilikinya. Ia memang belum mengumumkan pensiun dari politik, tetapi belum juga mengikrarkan kembali ke pusaran utama.

Lebih dari setahun meninggalkan Elysée Palace, ia setia dengan partai Persatuan Gerakan Rakyat (UMP)-nya. Sarkozy juga sadar kekalahan yang memaksanya meninggalkan istana kepresidenan per 15 Mei 2012 setelah dihuni sejak 16 Mei 2007 membuatnya lebih banyak lepas dari teropong publik. Ia harus pintar mencari momen serta panggung yang pas untuk comeback.  Sepertinya itu telah didapat dari kursi di boks kehormatan Stadion Parc des Princes Paris, markas Paris Saint-Germain (PSG).

Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB, saat stadion itu menjadi magnet perhatian publik ketika Zlatan ‘’Ibra’’ Ibrahimovic dkk menjamu salah satu rival berat di Ligue 1, AS Monaco, Sarkozy hadir di boks kehormatan walaupun keberadaannya tidak mampu mengantarkan PSG menang. Klub besutan Laurent Blanc ini ditahan seri 1-1. Gol Ibra dijawab Monaco melalui ace-nya Claudio Ranieri yang didatangkan awal musim ini, bomber Radamel Falcao.

Hasil di atas rumput Parc des Princes bisa jadi tidak begitu penting untuk Sarkozy karena ia sebenarnya sibuk berikhtiar membangun ‘’lapangan’’ sendiri: lapangan untuk political comeback. Stadion tempat yang pas. Di Parc des Princes, ia disambut tidak hanya oleh Presiden PSG asal Qatar Nasser al-Khelaifi, namun juga fans yang memberikan aplaus dan berebut ingin foto bareng dengan sang mantan presiden.

Tahu namun Sarkozy sepertinya tidak mau tahu berita-berita miring yang masih menguntit dirinya, seperti pancingan berperang kata dengan Sepp Blatter seputar penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 yang sebelumnya disebut Presiden FIFA itu sebagai ‘’kesalahan’’. Di permukaan, faktor cuaca panas di Teluk kala event itu berlangsung, yang disebut-sebut bisa mencapai 50 derajat Celsius, jadi kambing hitam meski Qatar menjanjikan bangunan stadion yang mampu menghadirkan suhu 20 derajat Celsius saat Piala Dunia berlangsung di musim panas Juni-Juli.

Rabu (18/9), kepada koran Die Zet Jerman, Blatter membenarkan keberadaan politikus yang menekan Presiden Persatuan Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) asal Prancis Michel Platini agar mengalihkan dukungan UEFA dari AS ke Qatar untuk Piala Dunia tersebut. Australia juga maju bidding, tetapi kalah juga oleh Qatar. Meski tanpa menyebut nama, terang benderang yang dimaksud itu Sarkozy.

Blatter sekadar menegaskan investigasi France Football  yang diturunkan dalam laporan berjudul Qatargate Januari lalu. Bahwa terjadi ‘’kolusi dan korupsi’’ atas penunjukan Qatar dari sebuah pertemuan santap siang oleh Sarkozy di Elysée Palace pada 23 November 2010. Saat makan siang dengan Putra Mahkota Qatar Pangeran Tamin bin Haman al-Thani dan investor PSG yang ketika itu dililit masalah keuangan serius, Sarkozy minta Platini yang juga diundang hadir mengerahkan anggota UEFA agar memilih Qatar.

Pertemuan juga membahas rencana pembelian PSG sekaligus pembukaan saluran olahraga baru di televisi Prancis guna menyaingi Canal Plus yang dibenci Sarkozy. Mantan presiden ini memang dikenal pendukung fanatik PSG dan rutin hadir di stadion kala klub itu bertanding.

France Football tidak menyebut pertemuan itu sudah menghasilkan kesepakatan (deal). Namun semuanya didiskusikan dalam pertemuan itu. Yang ada kemudian, 10 hari setelah pertemuan santap siang tersebut Qatar resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. PSG dibeli perusahaan dana investasi Qatar senilai GBP 50 juta pada 2011. Tahun lalu jaringan televisi Qatar Al-Jazeera membuka saluran khusus olahraga Prancis, beIN Sport, setelah mendapatkan hak siar sepak bola Prancis hingga 2016 senilai GBP 150 juta.

Platini membenarkan pertemuan santap siang itu, namun ia berang menanggapinya. Mantan kapten timnas Prancis ini mengatakan tidak ada tekanan mengalihkan dukungan UEFA ke Qatar. Ia pun kini sibuk berkampanye agar pelaksanaan Piala Dunia 2022 digeser ke November-Desember untuk menyesuaikan dengan cuaca. Namun Qatar dan sejumlah negara lain bersikukuh tetap di Juni-Juli.

Tahun lalu FIFA menunjuk pengacara AS Michael Garcia sebagai kepala tim penyelidik etika. Menurut France Football, Garcia mengatakan, berbagai bukti awal menunjukkan memang ada pengaruh korupsi atas penunjukan tuan rumah Piala Dunia 2018 Rusia setelah mengalahkan Inggris dalam voting di putaran pertama dan Qatar 2022 yang mengungguli Australia pada putaran terakhir.

Menjaga Popularitas

Politik adalah momentum. Memanfaatkan momentum wajib dimiliki setiap politikus untuk menjual nama di mana-mana, di segala macam media, di segala jenis acara. Kini salah satu yang memungkinkan bagi Sarkozy adalah sepak bola. Dengan pesonanya, ditambah sukses PSG menjadi juara Ligue 1 musim lalu, publik serasa telah ‘’melupakan dosa-dosanya’’.

Jajak terakhir atas popularitas Sarkozy di Paris Match memastikan dukungan di kisaran 53 persen berbanding 44 persen untuk Hollande. Di internal UMP, Sarkozy masih dinilai layak maju lagi menantang Hollande pada pemilu 2017. Dari sembilan nama internal UMP yang dinilai dalam jajak Ifop, Sarkozy di peringkat teratas (56 persen) berbanding hanya 17 persen untuk pesaing dekatnya, mantan PM Francis Fillon.

Sarkozy di tengah fans PSG yang menyambutnya dan mengajaknya berfoto bersama di Parc des Princes, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS
Sarkozy di tengah fans PSG yang menyambutnya dan mengajaknya berfoto bersama di Parc des Princes, Minggu (22/9) malam atau Senin (23/9) dini hari WIB. REUTERS

Di saat krisis ekonomi masih menggantung di Prancis, orang mengingat saat 2008 ia ke Jerman menemui Kanselir Angela Merkel dan membicarakan langkah bersama demi kestabilan perekonomian. Prancis tidak terkena serangan serius sebagaimana kini masih dihadapi Presiden Hollande. Apa pun yang dilakukan Hollande akan memberinya kredit dan menentukan sendiri popularitasnya, sementara Sarkozy serasa nothing to lose. Jika publik menilai pemerintah sekarang tidak cukup cekatan, tanpa kata pun Sarkozy bisa bermanuver seolah berkirim pesan: ‘’Coba kami yang terus memerintah’’.

Momentum muncul bagi Sarkozy untuk keluar lagi ‘’menjual diri’’. Memang ia sedang out of duty, tetapi takkan pernah out of desire. Hasratnya ke politik tetap membara. ‘’Politik sudah menjadi DNA Nicolas Sarkozy. Ia akan selalu tertarik politik,’’ ujar mantan Menteri Kehakiman Rachida Dati kepada Observer.

Meski belum mengucap comeback, Sarkozy mulai membangun kembali popularitasnya dari stadion. Sementara sang istri, model-penyanyi Carla Bruni, mengeluarkan album terbaru Le Pengouin berisi satir-satir yang diyakini banyak orang ditujukan ke Hollande. Semua kian menguatkan pendapat publik Sarkozy belum tamat di panggung politik Prancis yang permisif menilai sosok.

Pada 1950-an, Jenderal Charles de Gaulle menghabiskan lebih dari satu dasa warsa di belantara politik tanpa posisi sebelum kembali membangun Republik Kelima. Francois Mitterand gagal saat kali pertama nyapres pada 1965, tapi politikus Sosialis ini sukses di pemilu 1981 yang bertahan hingga 1995. Jacques Chirac gagal di pemilu 1981, tapi sukses pada 1995 hingga 2007. Selama 30 tahun politik Prancis diisi pertarungan politik Mitterand dan Chirac. Kiranya parameter waktu ini begitu dipahami Sarkozy.

Jika memilih melanggengkan nama dengan ‘’menunggangi’’ sepak bola, Sarkozy sepertinya sadar risiko kepopuleran dari arena itu sangat minim. Mungkin bisa dibilang tidak ada untuk tujuan utama politisi menjual nama. Sebaliknya sangat menguntungkan demi menjaga popularitas.

Mendiang seorang manajer klub sepak bola di Indonesia beberapa tahun silam berkata kepada saya, diberitakan baik atau buruk asal berkaitan dengan sepak bola dan olahraga itu tetap saja untung. Apalagi, ujarnya, ‘’Bayangkan tiap hari nama bisa ada di televisi dan koran. Berapa duit harus keluar jika bayar iklan?’’

*) Dimuat di HARIAN NASIONAL, Selasa 24 September 2013, Halaman A19.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: